Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2011

Tanggal yang Sama Setahun yang Lalu

5 Desember 2010 - 5 Desember 2011


Tidak terasa sudah setahun semenjak peristiwa itu, peristiwa yang mengejutkan dan membuat aku dan keluargaku terpukul. Kepergian eyang kakung untuk selamanya. Di hari minggu, di tanggal ini, setahun yang lalu.

Aku masih ingat sekali, tahun lalu, hari sabtu tanggal 4 desember 2010. Aku masih sibuk dengan laporan praktikumku. Sedangkan hari itu aku harus pulang. Karena kebetulan orang tua, om tante dan adik-adik sepupuku pun sedang pulang kampung juga. Jika bukan pada saat lebaran, jarang sekali kami dapat berkumpul seperti itu. Akhirnya setelah menyelesaikan laporanku aku pun pulang. Aku bertolak dari kos sekitar pukul 11 siang dengan menaiki bus kota ke terminal.

Selama perjalanan ke terminal, di daerah Gombel, aku melihat ada kecelakaan antara mobil bak terbuka dan seorang pengendara vespa. Bahkan pada saat itu, korbannya masih ada di TKP. Terkapar di pinggir jalan, seorang bapak-bapak dengan baju batik, bersimbah darah, sedang diperiksa denyut nadinya oleh seseorang. Tiba-tiba saja aku langsung teringat eyang kakung. Tapi tidak ingin berprasangka buruk , aku tepis pikiranku jauh-jauh.

Menaiki bis ekonomi dan dengan begitu banyak hambatan di jalan pada waktu itu membuat aku sampai di rumah pada pukul 2 siang. Bahkan lebih, hampir ashar seingatku. sampai dirumah aku tidak bertemu dengan eyang kakung, eyang ibu, om tante dan adik-adik sepupuku. Ternyata mereka sudah berangkat ke Surabaya, untuk menghadiri pernikahan keponakan eyang.


Seharusnya rumah ramai, karena anak-menantu dan cucu-cucu eyang banyak yang berkumpul. Tapi om tante ku yang 1 ikut bersama eyang ke surabaya, om tante yang lain menginap di rumah saudara yang lain karena akan menyambut kedatangan haji saudaranya. Akhirnya malam ini tinggal papa, mama, aku, om tante dan adik-adik sepupuku yang lain.

Malam itu aku pun tidur seperti biasa. Tiba-tiba pukul 3 pagi aku mendengar papa sedang menerima telpon dengan panik. Reflek tanpa berpikir panjang aku bangun dan menghampiri papa. Papa dan mama panik dan membangunkan om dan tanteku. "om, bangun om, bapak kecelakaan om.."
Aku merebut handphone dari tangan papa dan dari sana aku bisa mendengar suara eyang ibu, sambila menangis "ndhuk, jemput ndhuk. eyang kecelakaan. Ya Allah, bapak, tangi pak... bapak... " Aku berusaha untuk menenangkan eyang " eyang jangan panik dulu, eyang ada dimana?" eyang ibuk menjawab dengan sangat kacau " rembang, setelah rembang. " berusaha tetap tenang aku menjawab "iya, sabar ya eyang, ini kami kesana."

Akhirnya aku,papa,mama dan omku berangkat menuju TKP dengan perasaan tidak karu-karuan. Tapi belum juga keluar dari kudus, kira-kira pukul setengah 4 pagi, eyang ibuk menelpon papa dan berkata "sabar yo nang, bapak wis lungo. bapak wis ora ana."
Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana kacau dan sedihnya aku dan keluarga pada saat itu. ingin segera cepat sampai di lokasi, tapi jalan ramai oleh truk-truk besar sehingga tidak memungkinkan kami sampai disana dengan cepat.

Sekitar pukul 7 pagi, kami sampai di puskesmas tempat eyang ibu dan yang lain menunggu. Sungguh sedih aku melihatnya, eyang ibuk ditemani oleh lila adik sepupuku menunggu kami di pinggir jalan di depan puskesmas. Duduk di batu taman dambil terus-terus menangis. Ketika kamii turun, kami langsung menghambur saling berpelukan dan bertangis-tangisan. Aku hanya bisa memeluk lila yang terus menangis dan berteriak "eyang, mbak,,,, eyang kakung... eyang kakung udah nggak ada , mbak..."

di dalam puskesmas, kami menemui tante yang sedang menjaga hilmi, adikku yang lain. Kepalanya bocor karena terantuk jok mobil. Tante pun tidak dapat menyembunyikan kesedihannya lalngsung memeluk kami dan menangis. Aku mencari-cari eyang kakung tapi ternyata beliau sudah di bawa ke rumah sakit untuk di mandikan disana, ditemani oleh om.

Beberapa orang keluarga kami datang dari surabaya, untuk melihat kondisi kami. Kemudian tak lama kemudian ambulans yang membawa jenazah eyang kakung datang, menjemput eyang ibuk dan kami semua langsung menuju kudus. aku ikut rombongan paling akhir. Sampai di rumah, rumah sudah ramai oleh orang-orang, tratak sudah dipasang, kursi-kursi sudah ditata. (terimakasih kepada keluarga besar dan tetangga_tetangga dekat yang sudah menyiapkan segalanya). Rombongan ambulans sudah datang terlebih dahulu, eyang kakung yang telah dikafani dan di mandikan pun sudah ditidurkan di ruang tengah untuk di doakan. Ketika aku turun dari mobil, aku langsung disambut oleh beberapa orang keluarga, dipapah menuju ruag tengah untuk menemui eyang kakung. Disana sudah ada omku, anak laki-laki eyang kakung satu-satunya sedang mendoakan eyang kakung. Aku langsung menangis meraung-raung sambil memeluk eyang kakung, ingin membangunkannya. di sampingku, om berbisik "ikhlasin ya,,, biar eyang tenang. ikhlasin.."

Sungguh di dalam hati aku berontak dan ingin berteriak "bagaimana bisa aku mengikhlaskannya!" tapi akal sehatku pun memerintahkan untuk berhenti menangis dan berusaha untuk mengikhlaskannya, meski berat.

Keluarg-keluarga pun mulai berdatangan mengucapkan bela sungkawa. Ketika kakakku dari jogja datang pun, dia hampir tak mau menemui eyang kakung. Tampak sekali ia terpukul dan tak kuasa untuk melihat eyang kakung yang kami sayangi terbujur kakau dalam balutan kain kafan.

Akhirnya pukul 2 siang, eyang kakung dimakamkan di pemakaman depan rumah. Dan di hari itu lah aku terakhir kali melihat raganya. 5 desember 2010.
Sekarang sudah setahun semenjak kepergiannya, kenangan tentangnya masih terekam jelas di hati dan kepala kami. Kami masih dan akan selalu merindukan sosok dan segala sesuatau tentangnya. Karena beliaulah suami, ayah, mertua dan kakek terhebat sepanjang masa. :)

I love you grand pa...
"Fa"

Rabu, 19 Oktober 2011

Dear M, Dear D

Tidak ada kata-kata yang sanggup keluar, ketika melihat, mendengar, dan membaca bahwa engkau sedang berduka. Hanya airmata yang dapat membantu menyampaikan perasaan yang tak mampu aku ungkapkan. Jika boleh ku buat daftar 10 orang yang kusayangi di dunia ini, engkaulah yang menempati urutan pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Tak ada gantinya sama sekali.

Maafkanlah semua kata-kata kasarku selama ini. Karena dibalik semua itu, terdapat banyak kata-kata sayang dan rindu, yang tak tahu bagaimana caranya mendarat di hatimu. Maafkanlah semua acuh dan tak peduliku selama ini. Karena dibalik semua itu, semua tujuan dari apa yang ku lakukan hanyalah untukmu, menarik perhatianmu, membuatmu bangga padaku.

Bersabarlah untukku, bersabarlah untuk menungguku, menungguku yang masih banyak tidak mengerti, banyak tidak memahami, untuk senantiasa belajar, belajar dan belajar. Agar kelak dapat menjadi seseorang, yang dapat membuatmu bangga, membuatmu gembira, membuatmu merasa harapan itu ada, dan merasa perjuanganmu tidak sia-sia.

Percayalah bahwa aku tidak akan menyerah. Tidak akan berhenti sebelum sampai di akhir nanti. Percayalah bahwa aku akan menepati janji, aku tidak akan mengingkari. Karena bahagia itu pantas dan memang buatmu.

Berdoalah,, karena hanya dengan doadan restumu, usaha dan perjuanganku akan berjalan mulus sebagaimana mestinya. Berdoalah, berdoalah, berdoalah untukku, yang mencintaimu.


10.32 p.m.
let me be the one to catch your tears, and replace it with your lovely smile. :)

Sabtu, 01 Januari 2011

Sekali Lagi Mengenang Eyang Kakung

Tulisan ini di buat oleh Om saya, Tekad Widodo Setiawan
anak kedua dan anak laki-laki satu-satunya dari eyang kakung.
mohon izin mengunggah kembali ya om...



Yth. Ibu/Bapak/Saudara/Kakak/Adik/Teman semua:

Dari lubuk hati saya yang paling dalam, ijinkanlah saya mengucapkan terima kasih atas doa, ucapan duka, dan bantuan yang disampaikan dalam bentuk apa pun pada saat kembalinya ayah saya ke haribaan Illahi Robbi. Semoga Allah SWT memberikan ganjaran atas budi baik Ibu/Bapak/Saudara/Kakak/Adik/Teman semua. Amin. Sekarang, mohon ijinkan saya mengenang ayahanda. Terima kasih.

Mengenang bapak,
adalah mengenang seorang lelaki santun yang selalu menyemangati,
memberikan pujian atas keberhasilan, dan senyum pengertian di kala gagal,

Bapak yang tidak marah ketika kami melanggar larangannya,
yang hanya memandang sedih, itu pun berusaha disembunyikannya,
Bapak yang begitu menyayangi kami semua.

Bapak yang masih sabar ketika dokter membedah perutnya kemudian menutupnya kembali karena tidak ditemukan radang di ususnya,
yang masih mau dioperasi kembali prostatnya setelah operasi pertama malah membuatnya tersiksa,

Namun akhirnya bapak menyerah pada sebuah kejadian,
saat lewat tengah malam di luar kota Tuban,
yang diikuti jerit kehilangan di Kudus, Surabaya, Tangerang, dan Jakarta

Gusti, lapangkanlah jalan bapak menuju kehadirat-Mu

Hari ini, ketika aku menuliskan ucapan terima kasih ini,
masih tergambar raut damai bapak ketika untuk terakhir kali aku memeluknya.


Mataram, 13 Desember 2010



Gambar di atas adalah gambar kondisi mobil setelah kecelakaan terjadi. tapi hanya sebagian yang ditampilkan, karena tidak tega untuk menampilkan gambar seutuhnya.

sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=489429064696&set=a.179860094696.117702.669904696&ref=nf

Jumat, 31 Desember 2010

Duka di Penghujung Tahun 2010

Hari ini 31 Desember, hari terakhir di tahun 2010.
Semua orang bersuka cita merayakannya, sudut-sudut kota yang biasanya sepi kini ramai dengan masyarakat yang ingin berpesta atau sekedar melihat kembang api dan meniup terompet bersama keluarga. Tapi aku memilih berdiam diri di kamar, seperti tahun-tahun sebelumnya. Menonton tv sambil menunggu pergantian hari. Dua tahun lalu aq menonton Harry Potter, tahun berikutnya Spiderman 3, dan tahun ini stasiun TV yang sama menayangkan Pirate and The Carrebian 3. hanya saja sepertinya aku urung menontonnya.

Malam ini, aku sejenak ingin mengenang tahun 2010. Tahun yang cukup berat ku jalani, khususnya di bulan desember, bulan terakhir di tahun ini.

Bagaimana tidak, karna pada bulan inilah aku kehilangan salah satu sosok yang cukup berperan penting dalam perjalanan hidupku, beliau adalah Bapak H. Munasri Hadi Saputro, eyang kakungku.Tepatnya pada tanggal 5 Desember sekitar pukul 3.50 WIB eyang kakung menghembuskan nafas terakhirnya. Beliau meninggal di Tuban, pada sebuah kecelakaan mobil.
Ya, kecelakaan mobil.

Semua orang pasti mengira kepergian eyang kakung adalah dikarenakan sakit yang ia derita, seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya. Tapi ternyata Allah mengambilnya dengan cara yang berbeda.

Rasanya sama sekali seperti mimpi, seperti menonton sinetron di televisi, ketika kami mendengar kabar kecelakaan itu, kami langsung menyusul ke TKP, tapi bahkan belum sampai keluar dari Kudus, kami mendapat kabar bahwa eyang kakung telah tiada.

Lemas luruh seluruh jiwa dan ragaku mendengarnya. Rasanya benar-benar ingin marah dan teriak sekencang-kencangnya, mengapa dengan cara ini Allah memanggil beliau. Saat memandang jenazah beliau yang telah beku dalam balutan kain kafan, rasanya ingin sekali membangunkan beliau. Membangunkannya dari tidur yang sangat lelap. Tapi tak ada nafas dan dengkur berirama disana, alih-alih membuka mata. Eyang masih saja diam dan beku.

Satu hari, satu minggu, dua minggu, hampir satu bulan berlalu sejak kepergian eyang kakung. Rasanya masih seperti mimpi, rasanya masih tidak percaya bahwa eyang kakung kini telah tiada. Dalam sebagian pikiranku masih terpatri bahwa eyang kakung masih ada di rumah, menonton tv seperti biasanya, dan ketika aku pulang nanti, aku akan dengan mudah menemuinya di ruang tengah. Memeluknya, sambil bertanya : "eyang sehat?" atau jika tidak kutemukan beliau disana, maka pasti eyang kakung sedang tidur di kamarnya.

Tapi beliau tidak ada disana, dan tak kan pernah lagi ada disana. Aku harus bisa menerima kenyataan bahwa tak ada lagi suara dan nasehat beliau, tak ada lagi pelukan hangat beliau, meski rasanya masih teringat dengan jelas raut wajah eyang kakung yang menangis sedih ketika memelukku, saat mengantarku kembali ke kos. dan ternyata pelukan itu adalah pelukan terakhir, persis di dalam mobil, kursi dan posisi yang sama ketika kecelakaan itu terjadi.

Aku akan sangat merindukan eyang kakung.

Rasanya tak habis-habis airmata ini tertumpah setiap mengenang beliau. Bagi orang lain mungkin aku terlalu berlebihan, tapi seandainya mereka tahu bagaimanakah sesosok eyang kakung bagi kami, mungkin mereka akan berpikir lain.

Eyang kakung adalah sosok yang sabar dan bersemangat. Beliau suka olahraga. Bagaimana tidak, beliau adalah guru olahraga. Bahkan dalam usia kepala 5 pun beliau masih sering di minta untuk menjadi pembawa acara pertandingan sepakbola Persiku di GOR Kudus. Beliau adalah suami, ayah, mertua dan kakek yang sangat sayang kepada keluarga. Sering ketika beliau mendapat sedikit rejeki tambahan, kami para cucu-cucunya diajak pergi jajan di luar. Apakah sekedar lentog tanjung, lontong tahu, soto, es dawet dan lain-lain. Eyang ibu pun sering bercerita, meskipun hidup berkekurangan eyang kakung selalu berusaha agar anak-anaknya bisa sekolah tinggi, memakain seragam yang pantas, tidak boleh kusam sedikitpun, meskipun harus berhutang kesana-kesini.

Beliau sering mengajakku dan kakakku pergi kemana-mana. Meskipun sekedar berkeliling desa dengan sepeda atau dengan vespa kebanggaanya. Eyang bukan orang yang neko-neko, beliau adalah orang yang sederhana, ramah, dan jarang sekali marah. Beliau sering bercerita, tentang masa mudanya, tentang pengalamannya, tentang anak-anaknya, segala hal yang bisa kujadikan pelajaran di hidupku. Beliau selalu mengingatkanku untuk tidak mencontoh dirinya, namun contohlah orang lain yang lebih baik untuk dijadikan panutan. Padahal beliaulah yang turut andil memberiku banyak pelajaran di hidup ini.

Eyang kakung is a family oriented person. Sampai di ujung usianya pun beliau masih melindungi keluarganya. Seandainya saja saat itu bukan eyang kakung yang duduk di depan, bisa saja tante atau eyang ibu atau siapa yang pergi. Tapi eyang kakung lah yang ada di posisi itu, duduk disana dengan pasrah tanpa punya daya untuk menahan hantaman di kepalanya karna penyakitnya yang melumpuhkan sebagaian otaknya. Dan eyang kakunglah yang pergi, selamanya, ke alam dan dimensi lain. Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, karena ini bukan salah siapa-siapa. Ini adalah suratan, ini adalah Takdir Tuhan. Kami menerimanya dengan lapang dada.

Meski berat, meski sedih, tapi inilah kenyataan. Namun, meski raganya telah hilang ditelan bumi, tapi bagi kami, eyang kakung akan selalu ada dan bersemayam di hati. Dan cinta kami kepada beliau tidak akan pernah habis terhapus oleh waktu.
Selalu dan untuk selamanya.
We Will Always Love You Grand Pa...

your grand daughter
"Fa"

Rabu, 17 November 2010

Grand Pa

Rasanya aku ingin sekali menulis sesuatu, dengan kata-kata indah, suatu karangan yang panjang, dengan bahasa yang santun, tetapi tetap jenaka, yang menggambarkan sesosok Eyang Kakung di mataku. Ingin sekali ku selipkan di dalamnya rasa sayang, rasa cinta, dan rasa hormatku yang tak pernah habis untuknya. Bahwa dari dulu hingga sekarang, beliau adalah kakek nomor 1 di dunia ini, yang tak ada habisnya aku bangga-banggakan. Tapi rasanya tak ada kata-kata yang sanggup kurangkaikan. Karena semuanya telah luruh bersama air mata yang mengalir tak henti-henti, meski ku usap berkali-kali. Ingin rasanya ku kerahkan semua tenaga yang ada untuk membantunya keluar dari penjara kanak-kanak yang membelenggu pikiran tuanya. Agar ia dapat kembali menjadi ia yang selama ini aku tahu. Tapi aku tak punya daya juga kuasa. Aku hanya bisa berdiri masih di tempat yang sama dan berdoa bagi kesembuhannya.

Get Well Soon Grand Pa..
No matter how long it is, no matter how hard it would be...
-Happy Ied Adha 1431 H-

Minggu, 01 Agustus 2010

Bisikan Hati untuk Mama

Mama,,
berikanlah aku sederet doa yang menguatkan
agar aku bisa berdiri dan bertahan
kemudian aku bisa berjalan maju dengan tegap dan mantap
menghadapi segala rintangan yang menghadang..
berikanlah aku sebongkah restu yang menenangkan
agar akan selalu ada sandaran ketika aku mulai kelelahan
kemudian aku bisa bangkit kembali
memilih dengan yakin, jalan yang menuntunku pada yang kau sebut bahagia..
berikanlah aku segenap kasih sayangmu
dari luasnya samudra hatimu
agar aku bisa beristirahat dengan nyaman
ketika mulai tersesat dan bingung menentukan jalan
pulang ke dalam hatimu yang damai

Minggu, 18 April 2010

Thanks for being my parents...

Memiliki Papa dan Mama sebagai orang tua adalah anugerah terindah bagiku. Entah kenapa baru 2 tahun terakhir ini aku rasakan. Betapa durhakanya aku selama ini...
Masih teringat jelas dalam ingatan, aku pernah memberontak pada mereka ketika kami harus pindah ke kota lain. Aku bersikeras untuk tetap tinggal disana, hidup sendiri di kost-kostan, hanya karena tidak ingin berpisah dengan sahabat-sahabatku. Dan aku bersyukur, papa mama melarangku dengan cukup keras. Dulu aku berpikir mereka jahat, karena bersikap demikian. Namun sekarang aku mengerti dan bersyukur, karena aku tidak bisa membayangkan apa jadinya aku jika papa dan mama mengizinkannya.

Aku masih ingat ketika aku kelas 3 smp, aku mendapat nilai 6 untuk mata pelajaran Kewarganegaraan. Mata Pelajaran yang sangat mudah bagi Papa dan kakakku, tapi tidak bagiku. Nilai itu membuatku mendapat sindiran dari Papa, dan itu membuatku marah, sampai-sampai aku membanting pintu di belakangnya ketika Papa keluar dari kamarku. Seketika papa berbalik dan menjewer telingaku. Sakit sungguh, tidak hanya di telinga, tapi di hati... Tapi jeweran itu membuatku sadar, bahwa aku sudah terlalu kelewatan. tidak seharusnya aku bersikap demikian, betapapun marahnya aku. dan untuk papa, mungkin itu membuat beliau sadar bahwa gadis mungilnya ini tidak menuruni bakatnya di bidang Kewarganegaraan. Sehingga saat aku mendapatkan nilai C pada mata pelajaran yang sama di bangku kuliah, papa hanya bisa berkata "Ya sudahlah..."

Papa adalah sosok lelaki biasa yang bisa menjadi luar biasa bagiku, mama, dan kakakku. Dengan pekerjaan yang cukup beresiko, Papa mampu dengan sabar menjalaninya. Bekerja sama dengan mama menghemat pengeluaran, menghitung dengan cermat, dan mengalokasikan dana sesuai kebutuhan dengan tepat. Bagi mereka, mencukupi kebutuhan aku dan kakak adalah lebih utama.

Papa adalah seorang yang lucu, celetukan dan ucapannya acap kali membuat aku dan kakak tertawa. Banyak ciri-ciri khas Papa yang kadang membuatku tersenyum-senyum sendiri dibuatnya. Tapi Papa juga bisa jadi sangat pemarah, jika kami bandel. Aku masih bisa terbayang pada goresan luka yang dihasilkan dari sabetan sapu lidi yang dilayangkan Papa di lututku, karena kenakalan yang aku sudah lupa apa. Terdengar seram, tapi itu cara Papa mendidikku. Dan aku bersyukur, karena aku sekarang tidak tumbuh menjadi anak yang manja dan terlalu bergantung pada orang lain.

Kata eyang, aku dan Mama memiliki weton yang sama. Oleh sebab itu kami sering sekali bertengkar. Aku tidak suka dinasehati Mama. Terlalu panjang lebar, tentang sesuatu yang aku sudah tahu. Dan aku sudah cukup besar untuk tahu. Begitu pikirku dulu. Tapi aku baru menyadari, bahwa orang pertama yang aku ingat dan kupanggil saat aku sakit adalah Mama. Orang pertama yang ku minta doanya saat aku sedang akan menghadapi sesuatu yang besar adalah Mama. Bahkan baru-baru ini aku menyadari bahwa banyak ucapan Mama yang benar. Berbeda dengan yang ada dalam pikiranku dulu.

Saat aku SMP, aku selalu berpikir aku sudah cukup besar dan mandiri untuk hidup sendiri. Mungkin wajar, di usia itu kebanyakan remaja berpikir bahwa mereka cukup besar untuk dilepas sendiri. Namun, saat aku SMA, saat aku harus hidup jauh dari Papa dan Mama, aku baru sadar bahwa aku sangat kehilangan. Bahwa aku sangat merindukan saat-saat bersama mereka, setiap hari, seperti 14 tahun sebelumnya. Bahwa aku iri melihat sepupuku, yang bisa menghabiskan waktu bersama ayah dan ibunya. Aku iri melihat teman-temanku diambilkan rapornya oleh ayah atau ibu mereka. Harus kuakui masa SMA adalah masa terburuk yang pernah kulalui dalam hidup. Banyak orang yang berkata bahwa masa SMA adalah masa-masa terindah yang mereka lalui, bahkan Papa juga berkata begitu. Tapi kali ini Papa salah, bukan kali ini mungkin, tapi untuk kasusku, Papa salah. Masa SMA adalah masa-masa yang paling ku benci dalam hidupku. Masa yang tidak ingin aku ingat kembali. Jauh dari orang tua, teman yang tidak tulus, pacar yang overprotectif, guru yang menyebalkan, sekolah yang mata duitan dengan peraturan yang tidak rasional, perasaan yang labil, dan kehilangan pegangan. Seandainya aku saat itu masih tinggal serumah dengan Papa Mama, mungkin akan beda endingnya. entahlah..

Saat kuliah, aku berpikir, tak kan ada yang beda, toh SMA pun aku tinggal jauh dari orang tua. Di saat kawanku sedang mengalami homesick di awal-awal kuliah, aku tenang-tenang saja. Tapi justru, saat kuliah sudah jalan 1tahun, aku mengalami homesick yang cukup parah. 1minggu penuh aku merasa sangat lemas, dan ingin pulang. Mulai saat itu, aku sadar, bahwa hingga kuliah pun aku masih belum siap tinggal jauh dari Papa dan Mama. Mungkin tidak akan pernah siap. Dulu, aku sebal karena Papa Mama tidak pernah absen menelponku setiap hari, siang dan malam. Tapi sekarang, saat Papa dan Mama sudah mulai jarang menelpon, aku merasa agak aneh dan kehilangan. hahaha... Tapi aku rasa dengan Papa Mama tidak menelpon tiap hari itu lebih baik, karena membuat kami merasa rindu. Sehingga menelpon tidak hanya menjadi mengecek posisi, tapi juga banyak bercerita tentang hari-hari kami.

Pertemuan yang jarang, membuat waktu berjumpa kami menjadi sangat berharga. Saat aku masih SMA, apabila liburan terlalu lama dan banyak waktu yang dihabiskan bersama Mama dan Papa malah membuat kami bertengkar di akhir liburan. Tapi sekarang menjadi sangat berbeda. Meskipun hanya di rumah setiap hari, hanya tidur-tiduran, sesekali membantu Mama masak, ikut belanja di pasar sebelah atau ikut mennjemput Papa dari kantor, tidak membuat aku bosan. bahakan menjadi saat-saat yang aku rindukan saat kami jauh.

Tak banyak yang bisa aku berikan pada Papa dan Mama, yang bisa ku lakukan saat ini adalah, membuat mereka bangga mempunyai anak sepertiku. Meski berat, tapi aku akan terus mencoba.

Hal yang sulit aku lakukan adalah mengatakan betapa sayang dan kangennya aku pada Mama dan Papa, secara langsung. Aku terlalu canggung untuk melakukan itu. Tapi aku berharap Papa dan Mama tahu, betapa aku menyayangi dan merindukan mereka. Betapa aku bersyukur memiliki orang tua seperti mereka, bersyukur bahwa aku diberi kesempatan untuk menjadi anak Papa dan Mama. I Love you Mom, I Love you Dad, forever and foralways...