Tampilkan postingan dengan label muara hati di ujung pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muara hati di ujung pikiran. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2011

Tanggal yang Sama Setahun yang Lalu

5 Desember 2010 - 5 Desember 2011


Tidak terasa sudah setahun semenjak peristiwa itu, peristiwa yang mengejutkan dan membuat aku dan keluargaku terpukul. Kepergian eyang kakung untuk selamanya. Di hari minggu, di tanggal ini, setahun yang lalu.

Aku masih ingat sekali, tahun lalu, hari sabtu tanggal 4 desember 2010. Aku masih sibuk dengan laporan praktikumku. Sedangkan hari itu aku harus pulang. Karena kebetulan orang tua, om tante dan adik-adik sepupuku pun sedang pulang kampung juga. Jika bukan pada saat lebaran, jarang sekali kami dapat berkumpul seperti itu. Akhirnya setelah menyelesaikan laporanku aku pun pulang. Aku bertolak dari kos sekitar pukul 11 siang dengan menaiki bus kota ke terminal.

Selama perjalanan ke terminal, di daerah Gombel, aku melihat ada kecelakaan antara mobil bak terbuka dan seorang pengendara vespa. Bahkan pada saat itu, korbannya masih ada di TKP. Terkapar di pinggir jalan, seorang bapak-bapak dengan baju batik, bersimbah darah, sedang diperiksa denyut nadinya oleh seseorang. Tiba-tiba saja aku langsung teringat eyang kakung. Tapi tidak ingin berprasangka buruk , aku tepis pikiranku jauh-jauh.

Menaiki bis ekonomi dan dengan begitu banyak hambatan di jalan pada waktu itu membuat aku sampai di rumah pada pukul 2 siang. Bahkan lebih, hampir ashar seingatku. sampai dirumah aku tidak bertemu dengan eyang kakung, eyang ibu, om tante dan adik-adik sepupuku. Ternyata mereka sudah berangkat ke Surabaya, untuk menghadiri pernikahan keponakan eyang.


Seharusnya rumah ramai, karena anak-menantu dan cucu-cucu eyang banyak yang berkumpul. Tapi om tante ku yang 1 ikut bersama eyang ke surabaya, om tante yang lain menginap di rumah saudara yang lain karena akan menyambut kedatangan haji saudaranya. Akhirnya malam ini tinggal papa, mama, aku, om tante dan adik-adik sepupuku yang lain.

Malam itu aku pun tidur seperti biasa. Tiba-tiba pukul 3 pagi aku mendengar papa sedang menerima telpon dengan panik. Reflek tanpa berpikir panjang aku bangun dan menghampiri papa. Papa dan mama panik dan membangunkan om dan tanteku. "om, bangun om, bapak kecelakaan om.."
Aku merebut handphone dari tangan papa dan dari sana aku bisa mendengar suara eyang ibu, sambila menangis "ndhuk, jemput ndhuk. eyang kecelakaan. Ya Allah, bapak, tangi pak... bapak... " Aku berusaha untuk menenangkan eyang " eyang jangan panik dulu, eyang ada dimana?" eyang ibuk menjawab dengan sangat kacau " rembang, setelah rembang. " berusaha tetap tenang aku menjawab "iya, sabar ya eyang, ini kami kesana."

Akhirnya aku,papa,mama dan omku berangkat menuju TKP dengan perasaan tidak karu-karuan. Tapi belum juga keluar dari kudus, kira-kira pukul setengah 4 pagi, eyang ibuk menelpon papa dan berkata "sabar yo nang, bapak wis lungo. bapak wis ora ana."
Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana kacau dan sedihnya aku dan keluarga pada saat itu. ingin segera cepat sampai di lokasi, tapi jalan ramai oleh truk-truk besar sehingga tidak memungkinkan kami sampai disana dengan cepat.

Sekitar pukul 7 pagi, kami sampai di puskesmas tempat eyang ibu dan yang lain menunggu. Sungguh sedih aku melihatnya, eyang ibuk ditemani oleh lila adik sepupuku menunggu kami di pinggir jalan di depan puskesmas. Duduk di batu taman dambil terus-terus menangis. Ketika kamii turun, kami langsung menghambur saling berpelukan dan bertangis-tangisan. Aku hanya bisa memeluk lila yang terus menangis dan berteriak "eyang, mbak,,,, eyang kakung... eyang kakung udah nggak ada , mbak..."

di dalam puskesmas, kami menemui tante yang sedang menjaga hilmi, adikku yang lain. Kepalanya bocor karena terantuk jok mobil. Tante pun tidak dapat menyembunyikan kesedihannya lalngsung memeluk kami dan menangis. Aku mencari-cari eyang kakung tapi ternyata beliau sudah di bawa ke rumah sakit untuk di mandikan disana, ditemani oleh om.

Beberapa orang keluarga kami datang dari surabaya, untuk melihat kondisi kami. Kemudian tak lama kemudian ambulans yang membawa jenazah eyang kakung datang, menjemput eyang ibuk dan kami semua langsung menuju kudus. aku ikut rombongan paling akhir. Sampai di rumah, rumah sudah ramai oleh orang-orang, tratak sudah dipasang, kursi-kursi sudah ditata. (terimakasih kepada keluarga besar dan tetangga_tetangga dekat yang sudah menyiapkan segalanya). Rombongan ambulans sudah datang terlebih dahulu, eyang kakung yang telah dikafani dan di mandikan pun sudah ditidurkan di ruang tengah untuk di doakan. Ketika aku turun dari mobil, aku langsung disambut oleh beberapa orang keluarga, dipapah menuju ruag tengah untuk menemui eyang kakung. Disana sudah ada omku, anak laki-laki eyang kakung satu-satunya sedang mendoakan eyang kakung. Aku langsung menangis meraung-raung sambil memeluk eyang kakung, ingin membangunkannya. di sampingku, om berbisik "ikhlasin ya,,, biar eyang tenang. ikhlasin.."

Sungguh di dalam hati aku berontak dan ingin berteriak "bagaimana bisa aku mengikhlaskannya!" tapi akal sehatku pun memerintahkan untuk berhenti menangis dan berusaha untuk mengikhlaskannya, meski berat.

Keluarg-keluarga pun mulai berdatangan mengucapkan bela sungkawa. Ketika kakakku dari jogja datang pun, dia hampir tak mau menemui eyang kakung. Tampak sekali ia terpukul dan tak kuasa untuk melihat eyang kakung yang kami sayangi terbujur kakau dalam balutan kain kafan.

Akhirnya pukul 2 siang, eyang kakung dimakamkan di pemakaman depan rumah. Dan di hari itu lah aku terakhir kali melihat raganya. 5 desember 2010.
Sekarang sudah setahun semenjak kepergiannya, kenangan tentangnya masih terekam jelas di hati dan kepala kami. Kami masih dan akan selalu merindukan sosok dan segala sesuatau tentangnya. Karena beliaulah suami, ayah, mertua dan kakek terhebat sepanjang masa. :)

I love you grand pa...
"Fa"

Selasa, 08 November 2011

Memaknai Hari Raya Idul Adha

Agama Islam memiliki 2 hari raya. Selain hari raya idul fitri, juga terdapat hari raya idul adha. Pada saat hari raya idul adha, setelah melaksanakan sholat eid, maka dilaksanakan penyembelihan hewan kurban sepeti sapi, kambing, unta dan kerbau. Hewan kurban tersebut dibagi-bagikan ke kaum fakir miskin dan orang-orang yang tidak mampu. Selebihnya daging tersebut (biasanya) dibagi-bagikan ke keluarga dan tetangga terdekat.
Hal yang paling ditunggu-tunggu pada saat hari raya idul adha adalah tentu saja jatah daging ini. Apalagi untuk anak-anak kost yang kesehariannya makan tahu dan tempe, daging merupakan makanan mewah yang sangat jarang bisa dinikmati. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan "makan daging setahun sekali" ini, setelah pembagian daging, saat hari mulai beranjak siang, akan banyak tercium aroma daging dibakar dari tiap rumah. Biasanya daging tersebut di sate atau di gulai.

Ketika hari raya idul adha ini, silakan liat status-status di jejaring sosial, berita-berita di televisi, pasti hampir semua berisi tentang kurban. Mulai dari mengucapkan selamat, laporan mengenai sholat ied dan penyembelihan kurbannya, hingga kepuasan menikmati daging kurban tersebut.
Status-status tersebut, terutama tentang kepuasan menikmati daging kurban pun datang beragam. Mulai dari yang bersyukur, Alhamdulillah bisa makan daging, ada yang kekenyangan, ada yang merasa puas sekali, hingga ada yang muntah-muntah karna kekenyangan. (Sungguh yang terakhir itu tidak patut dicontoh)

Melihat hal itu, salah satu kawan saya : Agie Aditama, melalui akun facebooknya mengepost sebuah foto dengan catatan.

"Ngeliat status banyak temen yg menikmati idul adha dgn makan daging smpe puas, bhkan di beberapa status ad yg sampe 'muntah2', aku jd inget perjalanan 2 minggu yg lalu ke bandung. waktu itu sabtu malem, di Braga city walk Bandung. ujan cukup deres, dan abis beli sebotol minuman dingin, aku mutusin bt duduk di deretan kursi di depan Alfam*rt. Di sampingku ada 2 orang anak kecil, kira2 umurnya sekitar 10 th dan 5 th, gelandangan, tidur beralaskan kasur di pelataran depan toko. awalnya aku ga bgtu merhatiin,, karena anak kecil gelandangan bukan hal yg aneh di kota macam bandung atau jakarta. tp saat tiba2 aku denger suara tangis -dari anak yg kecil-, aku jd sedikit merhatiin mereka. dan saat it jg, si kakak ngomong, 'jgn nangis.. ntar teteh cariin duit buat beli makan ya..'. wooww, anak ini, ga kehilangan kasih sayang bt adeknya, bhkn di kondisi susah, dan bhkan tnp orang tua. menit2 berlalu waktu aku merhatiin mereka, dan aku mutusin bt ninggalin tempat itu stlah beli 2 bungkus roti -cm itu yg bisa aku bli- bt mereka, berharap mereka bisa menemukan kebahagiaan di dunia yg lain suatu saat. :D dan di hari idul adha ini, aku jd inget lg sm mereka -tepatnya orang-orang sperti mereka-, semoga kebahagiaan temen2 sekarang jg bisa dirasain mereka, dan semoga dunia bisa lebih adil -suatu saat-. Kalo pny rejeki dibagi2 y temen2 jgn dimakan sndiri smpe muntah2.."
— at Braga.
(http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2209902011887&set=a.1067400090053.2010534.1377597309&type=1&theater)


Saya langsung seketika takjub dan terharu. Kita ini sebagai manusia, ketika diberi kenikmatan yang berlimpah sebentar saja sudah langsung lupa dengan keadaan sekitar. Padahal apakah makna dari idul adha itu sendiri? Selain makna ketakwaan yakni pengorbanan untuk menyerahkan hal yang palig berharga kepada Allah swt, salah satu makna lain dari berkurban itu adalah berbagi. Orang yang mampu berbagi kepada orang yang tidak mampu, sehingga orang yang tidak mampu juga dapat merasakan kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang berada. Juga mengajarkan kita untuk memiliki rasa solidaritas tinggi dan peduli kepada sesama.

Selain itu makna ketiga dari idul adha adalah bahwa apa yang dikorbankan tersebut merupakan simbol dari sifat tamak dan kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti rakus, ambisius, suka menindas dan menyerang. Tapi apakah dengan menyembelih hewan tersebut untuk dikorbankan kita sudah dapat menjauhkan diri dari rasa tamak dan rakus? Kalau nyatanya setelah dibagi dagingnya lalu dimakan sampai kekenyangan, sampai muntah-muntah. Sedangkan di luar sana masih banyak orang yang benar-benar membutuhkan.

Idul adha tidak semestinya dilalui begitu saja tanpa mengerti dan memahami makna dari berkurban itu sendiri. Dan teman saya tersebut telah berhasil memaknai hari raya idul adha, dengan caranya sendiri. Meskipun ia tidak merayakan hari raya idul adha, karena memang tidak menganut ajaran Islam. Malu ya? Yang agamanya bukan islam saja mengerti, masa kita yang islam tidak paham-paham juga?

Semoga setelah ini semakin banyak orang yang mampu memaknai hari raya idul adha dengan sebenar-benarnya dan semakin banyak orang yang dapat mengambil manfaat dari kurban tersebut.


"Banyak orang yang kurang mampu yang menantikan uluran tangan dari orang yang mampu melalui hari kurban. Kurban merupakan salah satu cara kita untuk membantu mereka yang kurang mampu." (Tabloid News, LP3i Bandung)


sumber :
fb : Agie aditama
tabloidnews.politeknik-lp3i-bandung.ac.id

Kamis, 13 Oktober 2011

Terlalu Indah

Masih saja tentang cinta dan perasaan bersalah yang ada karenanya. kepadamu, yang dulu pernah mengisi hari-hariku.

Sudah terlalu jauh memang jalan yang kita kira dulu sama, ada untuk kita lalui berdua. aku telah memilih jalanku, dan kaupun pergi memilih jalanmu sendiri, mengejar cita-cita yang selalu kau tanamkan dalam hati dan pikiran.

Maafkanlah aku atas segala sakit hati, kecewa dan kesedihan yang telah kutorehkan padamu. sungguh, bukan itu maksudku. Hanya saja dalam hidup selalu saja ada pilihan, dan aku pun telah memilih. Baik atau buruk keputusanku ini tolong maafkan dan doakan aku, semoga inilah yang terbaik. Karena tak akan pernah kita temukan yang terbaik, apabila bukan kita yang membuat hal yang kita miliki menjadi yang terbaik.

Apabila ada perasaan sakit yang terasa di hatimu, karena mengingat ataupun (mungkin) melihatku, mohon tanamkan dalam hati, bahwa kamu beruntung tidak bersamaku. Karena itu berarti, aku tidak cukup baik bagimu, dan akan ada orang lain yang jauh lebih baik, yang menunggu untuk dipertemukan denganmu.

Aku tahu, mungkin kamu tidak lagi membaca seluruh tulisan-tulisanku. namun aku hanya berharap suatu saat nanti, kamu iseng menengok kembali ke jendela ini, kamu akan menemukan tulisan ini Bahwa tak ada satupun niatku untuk menyakitimu. Kamu hanya, terlalu indah.

Jumat, 15 April 2011

Saya Hanya Ingin Diakui

saya takut menjadi gila...
saya takut menjadi hilang akal lalu kendali..
saya takut tidak bisa apa-apa...
karna tak ada seorang pun yang mengakui..

saya takut orang menyangka saya tidak waras..
padahal saya lebih dari waras...
paling tidak untuk mengakui bahwa saya agak tidak waras..
karena ketakutan orang lupa bahwa saya waras..

jangan tanya saya mengapa..
karna tak akan pernah ada jawabnya..
jika kalian saja tidak tahu, bagaimana pula dengan diriku,
jika kalian bisa bertanya semudah itu,..
seandainya saja saya bisa menjawab semudah itu pula..


Sebelumnya, mari kita tanyakan pada diri kita sendiri. Siapakah kita dalam lingkungan? Apakah kita adalah orang biasa dengan kepandaian yang luar biasa, orang yang biasa dengan kebaikan hati yang luar biasa, orang biasa namun selalu dirindukan kehadirannya, orang biasa yang akan selalu paling menonjol dari semua, orang biasa yang akan sama saja ada maupun tiada, atau orang biasa dengan segala yang biasa - biasa saja.

Beruntunglah anda jika anda adalah orang yang dicintai oleh lingkungan. Betapa kehadiran anda akan selalu berarti, betapa ketidakhadiran anda akan membuat suasana akan terasa kurang. atau paling tidak, ketika anda bicara maka orang akan berhenti bicara pula dan mendengarkan anda.

Namun, bagaimana jika tidak? bagaimana jika anda adalah orang yang tersisih di dalam lingkungan anda? bagaimana jika ada atau tiadanya anda tak kan begitu berpengaruh dalam lingkungan? bagaimana jika anda bicara hingga berbuihpun , tidak ada satupun yang memperhatikan apalagi mendengarkan? dan semua itu bukanlah sesuatu yang anda inginkan. tapi terjadi karena ketidakmampuan anda sendiri.

Mari lihat ke diri kita sendiri, sudah cukup baikkah kita, sudah cukup memberi manfaatkah kita, sudah cukup haluskah perkataan dan perilaku kita, sudah cukupkah kita menghargai sesama, sudah cukup kah kita membentuk pribadi kita menjadi pribadi yang bisa diterima, diakui dan disukai lingkungan?

Tidak juga menemukan jawabannya? tanyakanlah pada sahabat anda... tanyakanlah pada keluarga anda... tanyakanlah pada orang terdekat anda..
:)

Kamis, 03 Februari 2011

Sudahkah Saya Menjadi Anak yang Sholeh?



Sebelumnya saya ingin menambahkan bahwa saya tidak menggurui kepada siapapun yang membaca tulisan ini. Saya juga bukan tauladan yang baik untuk anda semua. Saya hanya ingin membagi perasaan dan pemikiran saya.

Saya sayang dengan orang tua dan keluarga saya. Bagaimanapun merekalah yang melahirkan saya, membesarkan saya, membimbing saya, dan mencukupi segala kebutuhan saya dari materi hingga kasih sayang yang tidak henti-henti. Bagi saya, keluarga adalah segala-galanya. Bukan hanya orang tua, tapi kakek-nenek, om tante, sepupu, semua turut andil dalam membentuk karakter saya saat ini. Dari mereka saya belajar banyak, dan saya pun mendapat kasih sayang yang sangat berlimpah.

Sampai akhirnya sesuatu yang "sudah seharusnya", terjadi dalam hidup saya. Eyang kakung saya tercinta dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Rasanya seluruh dunia saya berhenti seketika. Hampir tidak percaya, dan benar-benar panik. Karena rasanya belum banyak hal yang dapat saya lakukan untuk membahagiakan beliau, membuat beliau bangga pada saya. Tapi rasanya sudah tidak mungkin, hingga saya teringat pada hadits Rasul.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila seorang anak Adam mati maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang selalu mendoakannya.”
(Hadits shahih riwayat Muslim).

Saya bukanlah ahli agama. Bisa dibilang pengetahuan dan pendalaman saya tentang agama masih sangat sedikit. Ketika saya membaca hadits tersebut, yang ada dalam pikiran saya adalah : Anak sholeh kah saya?

Saya tahu, urusan dosa dan pahala adalah diatur oleh Allah swt. Oleh sebab itu, saya jadi berfikir, sudah cukup soleh kan saya, sehingga dapat menyambung amal bagi orang tua saya nanti? sudah cukup soleh kah saya untuk membantu orang tua saya di akhirat nanti? Bagaimana jika saya tidak cukup soleh untuk itu?Bagaimana jika saya justru menjerumuskan mereka ke dalam siksa akhirat, hanya karena saya tidak mau menjadi anak baik-baik yang sholehah?

Sedih rasanya jika berfikir demikian. :( Tapi kita sebagai manusia hanya bisa berusaha. Karena kita tidak tahu, apakah selama ini amal baik yang kita tabung sudahkah cukup atau belum. Kita tidak tahu, apakah ibadah kita selama ini diterima atau tidak. Apakah ibadah anda dan saya sudah baik? Wallahualam...

Wallahualam... Hanya Tuhan yang tahu,,, hanya Tuhan yang bisa menilai kualitas ibadah kita,, hanya Tuhan yang berhak membeda-bedakan kita sesuai tingkatan amal perbuatan kita.

Ketika kita mensejajarkan dua orang yang berbeda, satu orang yang baik, ramah, disukai banyak kawan. Kemudian dengan orang lain yang tidak banyak kawan, judes, dan sebagainya. Sebagai seorang manusia kita pasti akan lebih memilih orang yang pertama. Tapi bagaimana jika, orang kedua, yang tidak kita sukai tersebut, ternyata lebih tinggi derajatnya di mata Allah dibanding dengan orang yang pertama? atau bahkan dengan kita? bagaimana jika kita, di mata Allah, tidak lebih baik dari orang yang tidak kita sukai tersebut? Saya sering merasa miris sendiri jika berfikir demikian. Bukankah ironi sekali? Bukankah seharusnya kita malu pada Allah? Seharusnya saya malu pada Allah, karena sering bersikap demikian pula. :(

Tapi lagi-lagi, semua ini kembali ke diri kita, lalu baru bergerak vertikal lurus ke Allah. Kita hanya bisa berusaha, segalanya Allah yang menentukan. Namun jangan pesimis, karena Allah pasti akan menunjukkan jalan bagi umatNya yang mau berusaha. Allah juga tidak akan membiarkan hambaNya yang sudah berusaha, tersesat di jalan yang salah. Mari kita sama-sama berusaha untuk menjadi paling baik di mata Allah swt. Saya juga tidak pesismis, saya akan terus berusaha menjadi anak sholehah. Mari kita berusaha untuk menjadi anak sholeh bagi kedua orang tua kita. Lalu jangan lupa, doakan mereka agar tidak terputus amalnya. :)

“ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO”

Selasa, 01 Februari 2011

Tentukan Cita-Citamu

Hari ini adalah hari pertama saya melaksanakan PKL atau Praktek Kerja Lapangan. Pagi tadi ketika berangkat, saya sempat berbincang-bincang dengan teman saya, Averus Rizki Alfian atau biasa di sapa vero. Pembicaraan sederhana saja sebenarnya, sambil bercanda seperti biasa. Namun inti dari pembicaraan itu sangat dalam jika mau kita kaji.

di atas motor
Vero : "wah,, kita mau berangkat kerja. hahaha"
Saya : "hahaha.. cuma PKL ini"
Vero : "nggak kerasa ya sebentar lagi udah mau lulus terus kerja"
Saya : "iya nich, udah semester 6 aja kitanya."
Vero : "padahal tingkah polahnya kita masih kayak anak kecil semua ya? hahahaha"
Saya : "hhaa.. iyaa,, padahal udah kepala dua ya..."

Saya malah jadi kaget sendiri dengan kata-kata saya. Saya baru ingat kalau saya sudah menginjak usia 20 tahun. Well, saya akui saya memang masih suka lupa jika saya ini sudah berkepala dua. Selain karena faktor masih suka bermain-main, juga mungkin karena faktor badan saya yang tidak terlalu tinggi dan besar, yang katanya masih pantas jika memakai seragam smp. -___-" pendapat yang terakhir itu, tolong diabaikan.

Saya kemudian berfikir, bahwasanya saya sudah sampai di tahap ini. Seorang wanita, berumur 20 tahun menginjak 21, mahasiswi tingkat 3, yang sudah hampir lulus, Insya Allah. Tapi sampai detik ini saya masih belum bisa melihat dengan pasti kemana arah tujuan hidup saya, dan sampai sejauh ini pencapaian apa yang telah saya dapat dalam hidup. Terus terang saya masih merasa biasa-biasa saja. Seorang mahasiswi biasa, dengan kemampuan biasa, dan prestasi biasa.
Padahal saya tidak menampik, ada keinginan dalam diri saya untuk menjadi orang di atas rata-rata. Paling tidak bisa setingkat lebih baik di atas orang lain.

Dulu saat saya masih kecil, jika melihat umur 20 tahun ke atas, kesannya pasti adalah orang dewasa yang matang dan berwibawa, punya tujuan hidup yang pasti dan yang jelas berkarakter. Tapi pada kenyataannya adalah, tidak semua orang yang berumur 20tahun demikian. Tak jarang saya menemukan orang yang berumur 20tahun, atau lebih, namun pemikirannya masih seperti anak kecil. Belum memiliki tujuan dan arah hidup yang pasti, masih suka bermain-main. Saya akui mungkin saya termasuk orang yang demikian pula. Bertingkah seperti anak kecil mungkin sesekali, tapi untuk tujuan hidup? hmm... entahlah...

Setahu saya, orang yang tidak memiliki tujuan hidup adalah orang terlabil di dunia. Karena seseorang dilahirkan untuk hiduo di dunia, yang hanya sementara, lalu apabila ia tidak memiliki tujuan hidup, "terus lo ngapain disini??" . Ibaratnya seperti seseorang yang naik bus kota tapi tidak tahu kemana tujuan ia berhenti nantinya. Maka mungkin ia hanya naik bus tersebut, mengikuti kemana ia melaju, sampai bensinnya habis, atau jika ia tidak beruntung, diturunkan dan dicaci-caci kernet karena tidak punya tujuan.

Saya mungkin akan kesulitan untuk menjawab tujuan hidup saya. Seperti makhluk Tuhan lainnya, tujuan hidup saya adalah masuk surga. Tapi selain itu selama hidup di dunia ini, saya juga ingin menjadi seseorang yang berarti, bermanfaat, hingga ketika mati nanti, nama dan karya saya masih akan terus dikenang sepanjang masa. Tapi masalahnya adalah, saya tidak tahu, mau jadi apa saya ini.

Sampai di usia 20tahun ini saja, yang saya lakukan hanyalah mengikuti arus takdir yang dituliskan Tuhan. Hal ini mulai saya lakukan ketika saya masuk kuliah pertama kali. Karena sama sekali saya tidak pernah membayangkan harus masuk dan kuliah di jurusan saya sekarang ini. Pada awalnya saya protes kepada Tuhan, tapi kemudian hari saya bersyukur atas pilihan Tuhan. Dari situ saya mulai belajar bahwa bagaimanapun rencana dan mimpi-mimpi yang kita inginkan, tetap Tuhanlah yang tahu bagian mana yang terbaik untuk kita. Oleh sebab itu, saya mulai menjalani semua hal yang Tuhan takdirkan pada saya. Saya hidup mengikuti arus, seolah-olah tanpa beban. Apapun yang Tuhan berikan saya terima. Tapi menerima segala sesuatunya ternyata bukanlah hal yang mudah. Saya melihat orang-orang disekeliling saya, betapa mereka bersemangat berusaha mengejar segala sesuatu yang mereka sebut cita-cita. Saya sendiri bahkan lupa kapan saya terakhir kali memiliki cita-cita.

Rasanya menyakitkan sekali, ketika semua orang disekelilingmu sibuk jungkir balik, rela mengorbankan ini itu untuk suatu tujuan dan cita-cita yang pasti. Sementara kamu hanya berjalan ditempat sambil melihat orang lain jatuh bangun diatas kaki mereka. Ketika orang lain jatuh satu kali, mungkin kamu akan melihatnya dengan tatapan kasian. Ketika orang tersebut jatuh dua kali, mungkin kamu akan berkata : betapa bodohnya. tapi ketika kamu melihat orang yang sama jatuh berkali-kali, pasti kalian akan berfikir, untuk apa? Untuk apa ia rela jatuh bangun, dan bersakit-sakitan. Menyesakkan ketika mengetahui bahwa ternyata ada cita-cita yang sedang ia perjuangkan disana.

Kemudian saya mulai mengorek-orek kembali kenangan-kenangan masa kecil saya. Ketika ditanya : "adek cita-citanya apa?" saya kecil (SD Kelas 4) akan spontan menjawab designer. Didorong oleh hobi menggambar perempuan, saya kemudian tertarik untuk menjadi designer, meskipun tanggapan papa cukup menyakitkan : "kamu mau jadi penjahit?". Seiring berjalannya waktu, keinginan tersebutpun menghilang, dengan semakin menurunnya kemampuan menggambar saya. Kemudian saya bercita-cita menjadi penulis, karena kesukaan saya membaca novel. Tapi karena tidak telaten menulis, maka disinilah saya, hanya menjadi penulis blog sederhana yang tidak tahu apakah ada orang diluar sana yang membaca dan mengikuti tulisan saya.

Saya juga sempat berkeinginan menjadi seorang psikolog.Tapi apa daya, jurusan psikologi masuk ke jurusan sosial. Sementara saat SMA saya di jurusan sains, walhasil saya tidak jadi mendaftar kesana. Ditambah pula dengan ketidaksetujuan eyang ibu. Kata beliau, "Itu lho dokter psikolog di RSU nggak ada pasiennya." Meskipun saya menuruti, tapi saya tidak mengamini pemikiran beliau itu. Singkat cerita, sampailah saya pada jurusan ini. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, program studi Aquaculture. Dan rasanya sudah pasti mustahil jika pada saat ini saya bercita-cita untuk menjadi dokter. Lalu bagaimana nasib cita-cita saya?

Seperti yang bisa dilihat dari tulisan saya di atas, hidup saya memang banyak dipengaruhi oleh orang-orang terdekat saya. Mulai dari orang tua, eyang, kakak, om, tante dan lainnya. Saya memang seorang family oriented. Hampir segala sesuatu yang yang saya putuskan, saya diskusikan dulu dengan keluarga. Mungkin inilah yang sedikit "menghambat" saya untuk memilih cita-cita saya. Saya sedikit menjadi agak paradoid, jika ternyata cita-cita saya tidak disetujui oleh keluarga. Juga banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus saya ambil sebelum menentukan cita-cita saya.

Pada usia yang ke 20+ ini, saya memutuskan untuk memiliki cita-cita,
1. Lulus kuliah sebelum usia 22tahun, dengan IPK diatas 3,6
2. Melanjutkan S2 di Korea/Jepang/Perancis/Australia/Kanada
3. Menjadi dosen dalam rangka mewujudkan keinginan papa, serta menjadi pengusaha tambak yang sukses sesuai keinginan pribadi.
4. Menemukan jodoh dan menikah sebelum 25 tahun.

Jangan tertawa. Sila anggap ini adalah cita-cita orang pada umumnya. Karena memang demikian adanya. Tunggu sampai anda berkepala dua, anda pasti akan mengerti.

Saya memang ingin membuat pencapaian tinggi, tapi saya baru berani memanjat, bukan langsung meloncat terbang melesat. Saya memang ingin mencapai tujuan yang pasti, tapi belum berani langsung berlari, paling tidak saya tahu kemana arah-arah hidup ini akan akan saya jalani.

Bagi kalian para 20ers, jangan menyerah, selagi masih ada waktu, tentukan apa cita-citamu. Sebelum roda kehidupan berputar lagi, lalu anda terjepit dibawah.
SEMANGAT!
:)

February 1st, 2011
23.44 WIG
@ My 2nd Boarding House, Jepara...

Sabtu, 01 Januari 2011

Sekali Lagi Mengenang Eyang Kakung

Tulisan ini di buat oleh Om saya, Tekad Widodo Setiawan
anak kedua dan anak laki-laki satu-satunya dari eyang kakung.
mohon izin mengunggah kembali ya om...



Yth. Ibu/Bapak/Saudara/Kakak/Adik/Teman semua:

Dari lubuk hati saya yang paling dalam, ijinkanlah saya mengucapkan terima kasih atas doa, ucapan duka, dan bantuan yang disampaikan dalam bentuk apa pun pada saat kembalinya ayah saya ke haribaan Illahi Robbi. Semoga Allah SWT memberikan ganjaran atas budi baik Ibu/Bapak/Saudara/Kakak/Adik/Teman semua. Amin. Sekarang, mohon ijinkan saya mengenang ayahanda. Terima kasih.

Mengenang bapak,
adalah mengenang seorang lelaki santun yang selalu menyemangati,
memberikan pujian atas keberhasilan, dan senyum pengertian di kala gagal,

Bapak yang tidak marah ketika kami melanggar larangannya,
yang hanya memandang sedih, itu pun berusaha disembunyikannya,
Bapak yang begitu menyayangi kami semua.

Bapak yang masih sabar ketika dokter membedah perutnya kemudian menutupnya kembali karena tidak ditemukan radang di ususnya,
yang masih mau dioperasi kembali prostatnya setelah operasi pertama malah membuatnya tersiksa,

Namun akhirnya bapak menyerah pada sebuah kejadian,
saat lewat tengah malam di luar kota Tuban,
yang diikuti jerit kehilangan di Kudus, Surabaya, Tangerang, dan Jakarta

Gusti, lapangkanlah jalan bapak menuju kehadirat-Mu

Hari ini, ketika aku menuliskan ucapan terima kasih ini,
masih tergambar raut damai bapak ketika untuk terakhir kali aku memeluknya.


Mataram, 13 Desember 2010



Gambar di atas adalah gambar kondisi mobil setelah kecelakaan terjadi. tapi hanya sebagian yang ditampilkan, karena tidak tega untuk menampilkan gambar seutuhnya.

sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=489429064696&set=a.179860094696.117702.669904696&ref=nf

Jumat, 31 Desember 2010

Duka di Penghujung Tahun 2010

Hari ini 31 Desember, hari terakhir di tahun 2010.
Semua orang bersuka cita merayakannya, sudut-sudut kota yang biasanya sepi kini ramai dengan masyarakat yang ingin berpesta atau sekedar melihat kembang api dan meniup terompet bersama keluarga. Tapi aku memilih berdiam diri di kamar, seperti tahun-tahun sebelumnya. Menonton tv sambil menunggu pergantian hari. Dua tahun lalu aq menonton Harry Potter, tahun berikutnya Spiderman 3, dan tahun ini stasiun TV yang sama menayangkan Pirate and The Carrebian 3. hanya saja sepertinya aku urung menontonnya.

Malam ini, aku sejenak ingin mengenang tahun 2010. Tahun yang cukup berat ku jalani, khususnya di bulan desember, bulan terakhir di tahun ini.

Bagaimana tidak, karna pada bulan inilah aku kehilangan salah satu sosok yang cukup berperan penting dalam perjalanan hidupku, beliau adalah Bapak H. Munasri Hadi Saputro, eyang kakungku.Tepatnya pada tanggal 5 Desember sekitar pukul 3.50 WIB eyang kakung menghembuskan nafas terakhirnya. Beliau meninggal di Tuban, pada sebuah kecelakaan mobil.
Ya, kecelakaan mobil.

Semua orang pasti mengira kepergian eyang kakung adalah dikarenakan sakit yang ia derita, seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya. Tapi ternyata Allah mengambilnya dengan cara yang berbeda.

Rasanya sama sekali seperti mimpi, seperti menonton sinetron di televisi, ketika kami mendengar kabar kecelakaan itu, kami langsung menyusul ke TKP, tapi bahkan belum sampai keluar dari Kudus, kami mendapat kabar bahwa eyang kakung telah tiada.

Lemas luruh seluruh jiwa dan ragaku mendengarnya. Rasanya benar-benar ingin marah dan teriak sekencang-kencangnya, mengapa dengan cara ini Allah memanggil beliau. Saat memandang jenazah beliau yang telah beku dalam balutan kain kafan, rasanya ingin sekali membangunkan beliau. Membangunkannya dari tidur yang sangat lelap. Tapi tak ada nafas dan dengkur berirama disana, alih-alih membuka mata. Eyang masih saja diam dan beku.

Satu hari, satu minggu, dua minggu, hampir satu bulan berlalu sejak kepergian eyang kakung. Rasanya masih seperti mimpi, rasanya masih tidak percaya bahwa eyang kakung kini telah tiada. Dalam sebagian pikiranku masih terpatri bahwa eyang kakung masih ada di rumah, menonton tv seperti biasanya, dan ketika aku pulang nanti, aku akan dengan mudah menemuinya di ruang tengah. Memeluknya, sambil bertanya : "eyang sehat?" atau jika tidak kutemukan beliau disana, maka pasti eyang kakung sedang tidur di kamarnya.

Tapi beliau tidak ada disana, dan tak kan pernah lagi ada disana. Aku harus bisa menerima kenyataan bahwa tak ada lagi suara dan nasehat beliau, tak ada lagi pelukan hangat beliau, meski rasanya masih teringat dengan jelas raut wajah eyang kakung yang menangis sedih ketika memelukku, saat mengantarku kembali ke kos. dan ternyata pelukan itu adalah pelukan terakhir, persis di dalam mobil, kursi dan posisi yang sama ketika kecelakaan itu terjadi.

Aku akan sangat merindukan eyang kakung.

Rasanya tak habis-habis airmata ini tertumpah setiap mengenang beliau. Bagi orang lain mungkin aku terlalu berlebihan, tapi seandainya mereka tahu bagaimanakah sesosok eyang kakung bagi kami, mungkin mereka akan berpikir lain.

Eyang kakung adalah sosok yang sabar dan bersemangat. Beliau suka olahraga. Bagaimana tidak, beliau adalah guru olahraga. Bahkan dalam usia kepala 5 pun beliau masih sering di minta untuk menjadi pembawa acara pertandingan sepakbola Persiku di GOR Kudus. Beliau adalah suami, ayah, mertua dan kakek yang sangat sayang kepada keluarga. Sering ketika beliau mendapat sedikit rejeki tambahan, kami para cucu-cucunya diajak pergi jajan di luar. Apakah sekedar lentog tanjung, lontong tahu, soto, es dawet dan lain-lain. Eyang ibu pun sering bercerita, meskipun hidup berkekurangan eyang kakung selalu berusaha agar anak-anaknya bisa sekolah tinggi, memakain seragam yang pantas, tidak boleh kusam sedikitpun, meskipun harus berhutang kesana-kesini.

Beliau sering mengajakku dan kakakku pergi kemana-mana. Meskipun sekedar berkeliling desa dengan sepeda atau dengan vespa kebanggaanya. Eyang bukan orang yang neko-neko, beliau adalah orang yang sederhana, ramah, dan jarang sekali marah. Beliau sering bercerita, tentang masa mudanya, tentang pengalamannya, tentang anak-anaknya, segala hal yang bisa kujadikan pelajaran di hidupku. Beliau selalu mengingatkanku untuk tidak mencontoh dirinya, namun contohlah orang lain yang lebih baik untuk dijadikan panutan. Padahal beliaulah yang turut andil memberiku banyak pelajaran di hidup ini.

Eyang kakung is a family oriented person. Sampai di ujung usianya pun beliau masih melindungi keluarganya. Seandainya saja saat itu bukan eyang kakung yang duduk di depan, bisa saja tante atau eyang ibu atau siapa yang pergi. Tapi eyang kakung lah yang ada di posisi itu, duduk disana dengan pasrah tanpa punya daya untuk menahan hantaman di kepalanya karna penyakitnya yang melumpuhkan sebagaian otaknya. Dan eyang kakunglah yang pergi, selamanya, ke alam dan dimensi lain. Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, karena ini bukan salah siapa-siapa. Ini adalah suratan, ini adalah Takdir Tuhan. Kami menerimanya dengan lapang dada.

Meski berat, meski sedih, tapi inilah kenyataan. Namun, meski raganya telah hilang ditelan bumi, tapi bagi kami, eyang kakung akan selalu ada dan bersemayam di hati. Dan cinta kami kepada beliau tidak akan pernah habis terhapus oleh waktu.
Selalu dan untuk selamanya.
We Will Always Love You Grand Pa...

your grand daughter
"Fa"

Sabtu, 23 Oktober 2010

Kalau Jodoh Tak Kan Lari Kemana

Jangan salahkan waktu, waktu itu mengalir seperti air, tak mungkin kembali lagi. Kita sebagai ikannya yang harusnya mewarnai (Fridiary,2010)


Malam minggu ini seharusnya berjalan seperti biasa buat saya, mengkhianati tugas dan selingkuh dengan internet. Bolak-balik merefresh beranda dan profil pada facebook, atau timeline dan replies pada twitter berharap ada post atau mention baru. Meskipun yang ada kebanyakan adalah postingan dari para pacarwan dan pacarwati sepulang malming. Sungguh membuat saya semakin galau. >.< Tapi yang membuat beda malam ini adalah teman saya, si Berlin Dewan Fridiary,


yang katanya sedang mendapat inspirasi, entah inspirasi atau sudah menderita kegalauan akut karna kejombloannya, menulis notes di facebook dengan judul : KISAH CINTA TRAGIS DI PERIKANAN. dan isinya memang tragis, khusus bagi para fakir asmara.

http://www.facebook.com/notes/berlin-fridiary/kisah-cinta-tragis-di-perikanan/442987160739

Mungkin memang hanya orang-orang perikanan yang bakal ngerti maksudnya. Tapi bagaimanapun cara Berlin menggambarkan kisah cinta itu, intinya adalah..............


LAMA-LAMA JOMBLO ITU ENGGAK ENAK!
#teriakhisteris
terutama jika, sahabat-sahabat dekat kamu punya pacar. Itulah yang membuat kejombloan kamu terasa semakin menusuk hati. >.< Tapi disini, Berlin juga menyampaikan bahwa waktu akan berjalan terus, sekuat apapun kita melawannya, kita tidak akan mampu. Maka yang harus kita lakukan adalah mengikuti bagaimana waktu berjalan, lalu dalam waktu itu kita akan berkarya membuat keindahan-keindahan tercipta dalam hidup kita. Soal cinta, itu semua hanya soal waktu, suatu saat nanti pasti kita akan menemukan yang benar-benar cocok di hati. Meskipun terkadang muncul rasa iri dan tidak nyaman dengan kesendirian ini, jangan putus asa, masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengisi hari-hari kita dengan keceriaan, dan masih banyak kawan yang bisa kita ajak bersenang-senang (baca : yang jomblo masih banyak kok) Tuhan telah menentukan jodoh terbaik untuk kita. Do you belive it? I do... :)

Jumat, 01 Oktober 2010

My First Post since 20

Setelah hampir 3 bulan vakum menulis di blog, akhirnya pada hari pertama di bulan oktober ini saya mulai menulis kembali.
Banyak hal yang terjadi selama bulan agustus, september, hingga oktober ini.
Salah satunya adalah Ulang Tahun saya yang ke-20.
Yap, terhitung sejak tanggal 17 Agustus lalu usia saya sudah berkepala dua. Jangan tanya bagaimana rasanya, yang jelas saya jadi sedikit merasa tua. hha...

Bertambah usia, bertambah pula tanggung jawab yang harus saya pikul, bertambah masalah yang harus saya hadapi dan semakin banyak karakter orang yang sebelumnya saya tidak menyangka itu ada. Mungkin dulu saya adalah seorang gadis periang yang bisa bermain kesana kemari sesuka hati, berkawan dengan siapapun yang saya mau, dan juga tidak peduli dengan bagaimanapun kondisi di sekitar saya. Tapi sekarang gadis itu sudah tumbuh menjadi seorang wanita dengan tanggung jawab yang harus ia pikul di bahunya, dengan seabrek masalah yang harus ia selesaikan, dan segala tantangan yang harus ia hadapi. Pertanyaannya sekarang adalah, mampukah ia?

Dengan emosi yang masih tinggi, perasaan yang masih labil, dan pegangan yang samar mulai menjauh, semua ini tidak akan mudah. Tapi saya percaya, saya pasti bisa. Karna saya telah dididik menjadi manusia yang tangguh, menjadi wanita mandiri, dengan perasaan sosial yang tinggi. Dikelilingi dengan keluarga dan sahabat yang tidak letih untuk mengingatkan, menyemangati, dan mendoakan. Tapi yang lebih utama adalah karna saya punya Tuhan, satu-satunya Dzat Maha Agung dan Maha Kuasa, serta Maha Pemberi Petunjuk. Saya hanya butuh berlatih dan meningkatkan kualitas diri, sehingga ketika dihadapkan pada tantangan dan masalah yang lebih besar nantinya, saya bisa menghadapinya dengan baik.

Di usia yang ke-20 ini, saya berharap semua cita-cita dan impian saya dapat terwujud. Meskipun saya tahu bahwa jalan hidup ini masih menjadi rahasia Tuhan, saya tidak lelah untuk berharap dan berdoa bagi kehidupan yang bahagia di dunia dan setelahnya. Aminn...

Sabtu, 14 Agustus 2010

Seandainya saja jika

Aku benci menggunakan kata-kata "seandainya saja jika" karena isinya yang ada hanya berupa penyesalan-penyesalan tak berarti. Aku benci menggunakan kata "seandainya saja jika" karena membuatku merutuki kesalahan dan kebodohan yang aku perbuat sebelumnya. Aku benci menggunakan kata "seandainya saja jika" karena membuatku putus asa dan kehilangan semangat. Aku benci menyesali yang telah terjadi, aku benci menyesali kebodohanku sendiri, aku benci untuk berkata "seandainya saja jika..."

Minggu, 01 Agustus 2010

Welcome August

Saya selalu bersemangat menyambut bulan Agustus. Bukan karena di bulan ini saya di lahirkan, tapi lebih karena semarak yang muncul di bulan Agustus ini. Ya, semangat kemerdekaan republik Indonesia. Karena di bulan Agustus inilah, jalan-jalan di kota maupun di desa ramai dihiasi dengan umbul-umbul, bendera merah putih, lampu hias berwarna-warni, serta tulisan-tulisan yang menyuarakan dirgahayu Indonesia. Jalan di beberapa desa pun di cat putih di tepi kanan dan kiri, atau sekedar marka sederhana di tengah jalan. Berbagai instansi, mulai dari pendidikan hingga pemerintah, negeri maupun swasta, mulai menyiapkan lomba-lomba baik intern maupun extern. Baik lomba-lomba keterampilan seperti lomba puisi, pidato, menyanyi, teater, gerak jalan, baris berbaris, maupun lomba-lomba yang mengedepankan sisi kebersamaan dan keceriaannya seperti lomba tarik tambang, memasukkan pensil ke dalam botol, balap karung, makan kerupuk, membawa kelereng dengan sendok, hingga panjat pinang. Saya jadi teringat saat saya mengikuti lomba membawa kelereng dengan sendok di kantor ayah saya di Tanah Grogot, Kalimantan Timur. Ketika sudah di tengah jalan tiba-tiba kelereng saya jatuh, lalu segera saya ambil dan saya hanya mematung disana tidak berani melanjutkan. Sedangkan mama saya di pinggir lapangan sibuk berteriak, "maju dek.. terus saja." tapi saya terlalu ragu dan takut sehingga akhirnya saya pun kalah. Saya yakin tidak hanya saya yang punya pengalaman mengenai lomba-lomba tujuhbelasan. Kalian juga pasti punya, ya kan?

Jika bicara tentang perayaan kemerdekaan, jangan lupa dengan upacara kemerdekaan yang dilakukan 2 kali dalam sehari. Upacara pengibaran bendera merah putih dan upacara penurunan merah putih di sore harinya. Melihat pasukan pengibar bendera yang dengan gagah dan rapinya berbaris dan mengibarkan bendera di depan jutaan pasang mata penduduk Indonesia. Saya sering berkhayal betapa senang dan bangganya bila saya menjadi salah satu dari mereka. Namun mengingat fisik yang tidak terlalu tinggi, saya cukup puas untuk hanya menjadi penonton dan pengagum saja. Walaupun begitu saya cukup berbangga hati masih punya pengalaman baris berbaris dalam hidup saya. Saat kelas 2 SMP saya dan teman-teman saya di daulat untuk menjadi petugas upacara pembukaan dan penutupan Jambore Daerah Jawa Tengah di Kabupaten Kebumen. Pada saat itu saya mendapat tugas sebagai pengibar bendera jambore bersama beberapa teman dari SMP lain. Kami latihan setiap hari, di pendopo (Rumah dinas dan kantor bupati), setelah dirasa cukup mahir kami latihan langsung di bukit perkemahan. Kami berkumpul di pendopo dan latihan seperti biasa sambil menunggu kendaraan yang akan mengangkut kami kesana datang. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan datangnya sebuah truk sampah Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), kami kira truk tersebut akan mengambil sampah yang ada di pendopo. Tapi ternyata truk tersebutlah yang akan mengangkut kami ke tempat pelaksanaan Jambore. Dengan terpaksa kami naik truk tersebut, walaupun pada akhirnya kami terbiasa, toh kondisi truk tersebut tidak terlalu buruk. Sayang sekali saya melewatkan upacara penutupan jambore karena ada urusan keluarga, namun begitu saya sudah cukup senang.

Semarak agustus tahun ini dibarengi dengan datangnya bulan ramadhan. Bulan lain yang paling di nanti-nanti selama setahun, khususnya oleh umat Islam. Tak sabar rasanya ingin segera sahur dan buka puasa bersama, juga shalat tarawih berjamaah. Saya merindukan suara panggilan sahur di dini hari, sirine imsyak, penjaja makanan yang tiba-tiba menjamur di pinggir-pinggir jalan, bahkan suara petasan dan kembang api yang sering saya rutuki kebisingannya. Sudah dua kali bulan ramadhan saya lewati di kos. Saat pertama kali rasanya sedih sekali, karena tidak ada Mama atau eyang yang membangunkan saya untuk sahur. Tidak bisa membantu mama menyiapkan makan sahur. Tapi saya agak lebih beruntung karena anak ibu kos berjualan ketika sahur, sehingga saya tidak perlu repot-repot keluar untuk mencari makan. Entah bagaimana nanti jika saya pindah ke kos baru, semoga tidak susah mencari makan sahur. Suasana maghrib di bulan ramadhan nanti pastinya akan berbeda dengan maghrib pada bulan-bulan biasanya. Jalan-jalan lebih ramai dari biasanya pada saat ramadhan. khususnya di tempat-tempat menjajakan makanan berbuka maupun sekedar ta'jil untuk membatalkan. Senang rasanya akan menghirup aroma bulan ramadhan kembali. Terima kasih Tuhan atas nikmat ini.

Bulan agustus ini sepertinya akan menyenangkan. Ramadhan dan kemerdekaan datang bersamaan. Sama seperti 65 tahun silam, saat pertama kalinya Proklamasi dikumandangkan, bulan ramadhan pun jatuh di bulan agustus. Juga karena di bulan agustus tahun ini pula, tepat dua kali dasawarsa saya hidup. Semoga menjadi awal yang indah bagi kehidupan yang lebih baik lagi dengan pribadi yang lebih baik pula. Welcome August... Marhaban ya Ramadhan... Merdeka!! =)

Ibukota Jawa Tengah
Di Penghujung Hari Pertama di Bulan Ke Delapan Tahun 2010

Jumat, 30 Juli 2010

Hidup adalah Perjuangan

Hidup adalah perjuangan. Jargon tersebut mungkin sudah sering kali kita dengar. Banyak yang menyetujui tapi tidak semua benar-benar memahami. Bahwa perjuangan itu tidaklah semudah seperti kita mengejanya. P.E.R.J.U.A.N.G.A.N. Perjuangan yang kita butuhkan dalam hidup ini agar kita bisa menang, atau paling tidak bisa bertahan adalah betul-betul perjuangan yang membutuhkan daya juang yang terdiri dari kerja keras, komitmen, keinginan yang kuat, dan mental yang tangguh. Pernahkah kalian membayangkan jika hidup adalah perjuangan, perjuangan membutuhkan kerja keras, komitmen, dan lain sebagainya, lalu kita tidak memiliki salah satu dari semua syarat tersebut, lalu bagaimanakah kita bisa hidup?

Tapi sebelumnya, apakah yang kita perjuangkan dalam hidup ini? Apakah kita hanya hidup seperti sebagaimana mestinya saja, mengikuti segala sesuatu yang ada di hadapan kita? Tidakkah kita memiliki cita-cita yang nantinya kan menjadi tujuan hidup kita? Cita-cita, harapan, dan keinginan. Seorang manusia pasti dilahirkan dengan memiliki ketiganya. Perbedaannya mungkin adalah bagaimana usaha yang ditempuh tiap-tiap manusia untuk meraih cita-citanya, bagaimana hambatan yang harus dihadapi, dan bahkan kekuatan mental manusia untuk tetap berusaha mengejar apa yang diinginkan atau menyerah atau juga mengalah. Dengan memiliki cita-cita, kita akan memiliki tujuan kemana arah yang akan kita kejar dan akan kita jumpai di akhir perjalanan keberhasilan kita nanti.

Pernahkah kalian semua memiliki cita-cita yang tinggi, lalu kalian merasa takut untuk berusaha menggapainya? Saya pernah, bahkan mungkin bisa dikatakan sering. Saya memiliki banyak cita-cita, saya memiliki banyak harapan, tapi saya takut semua itu hanya menjadi mimpi-mimpi kosong belaka, karena saya terlalu takut untuk memulainya. Mengapa saya takut untuk memulainya? karena saya takut untuk mencicipi kegagalan. Padahal saya tahu betul, bahwa Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan yang tidak mungkin dilalui oleh umatNya. Sehingga seharusnya saya juga tahu bahwa seberat dan seperih apapun kegagalan yang akan saya alami nantinya, pasti akan dapat saya lalui dengan baik. Namun perasaan takut itu terus menjalar dalam diri saya. Bahkan sampai saat ini, membuat saya takut untuk bergerak maju. Tapi saya sadar, bahwa saya tidak bisa selamanya terus seperti ini. Karena sementara saya masih sibuk membenahi diri dan menghimpun kekuatan, orang lain sudah mulai menapakkan langkah pertamanya. Lalu ketika saya memulai langkah pertama saya, orang lain telah mampu berjalan. Dan ketika saya pun telah mampu untuk berjalan, oran lain telah berlari meninggalkan saya jauh di belakang dengan sejuta penyesalan dan iri hati. Kedua hal yang tak akan dapat memutar waktu kembali bukan? Karena memang waktu tak akan pernah diputar kembali.

Dengan penyesalan dan iri hati itu mungkin kita dapat berintropeksi dan memperbaiki diri, memperbaiki segala kesalahan dan mencapai yang lebih baik dari sebelumnya. Namun karena waktu tak akan pernah bisa diputar kembali, apakah kita punya cukup waktu untuk itu? Bagaimana jika kita tidak punya cukup waktu untuk berkali-kali salah dan memperbaiki diri? Apakah mungkin jika solusi terbaiknya adalah berusaha memberikan yang terbaik? Karna dengan memberikan yang terbaik, kita dapat mengecilkan kemungkinan kesalahan yang terjadi, dan dapat mengefisienkan waktu yang kita miliki. Apabila ternyata masih ada cukup waktu tersisa bagi kita, kenapa tidak kita gunakan untuk mengejar impian dan cita-cita yang lain.

Saya pernah mendengar bahwa kesuksesan itu datang setelah berkali-kali kegagalan. Maka dapatkah saya simpulkan bahwa kegagalan itu pasti akan terjadi? Lalu mengapa saya dan kalian harus takut menghadapai sesuatu yang sudah pasti akan terjadi? Mungkin perasaan yang ada sama seperti kita pertama kali masuk sekolah baru. Ada perasaan takut yang menggelitik jauh dari lubuk hati kita, namun setelah kita jalani, kenyataan yang ada tidak seburuk bagaimana kelihatannya. Bahkan bisa lebih baik dari yang kita takutkan. Kesimpulan kedua, setelah berkali-kali kegagalan itu, pasti akan ada kesuksesan yang selama ini kita dambakan bukan? Mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan kita, tapi pasti akan ada kesukses bagi kita. Tergantung dari sisi mana kita melihat dan mencari positifnya.

Setelah semua ini, akankah kita terus stagnan seperti ini kawan? Tidakkah kita akan malu terus berdiri di tempat yang sama setelah waktu terlewat bertahun-tahun? Tidakkah kita mau untuk menjadi lebih baik, untuk menggapai semua yang kita cita-citakan, dan mencapai kata sukses? Manakah yang lebih berharga, ketakutan kita akan kegagalan atau cita-cita dan kesuksesan yang akan kita capai? Kita bisa, selama kita tidak takut mencoba. Mari berusaha...

be better for the best future
11.48 pm

Kamis, 27 Mei 2010

Tanganku adalah Kakiku

Hari ini, 27 Mei 2010, lewat kotak hitam 14inch aku melihat kebesaran Tuhan yang seharusnya membuat kita malu. Di salah satu stasiun televisi swasta itu diceritakan kisah seorang manusia yang begitu tegar dan sabar menjalani hidupnya tanpa kaki yang sempurna. Saat berumur 6 bulan ia mengalami panas tinggi, yang kemudian oleh bidan di desanya ia disuntikkan sesuatu yang entah apa, dan kemudian sejak saat itu kakinya tidak bisa lagi digerakkan sempurna. Kakinya tumbuh lebih lambat dari badannya, dan tidak sanggup menopang berat badannya, apalagi jika harus dipakai berjalan. Maka ia menggunakan tangannya untuk menggantikan tugas kakinya.

Tangannya begitu kuat dan kekar. Setiap hari ia berjalan menggunakan tangannya untuk berjalan. Dengan dibantu sepasang sandal untuk melindungi telapak tangannya dari benda-benda tajam di tanah. Dengan tangannya itu pula ia bekerja untuk mendapatkan beberapa jumlah uang, tanpa ada sama sekali niat untuk berpangku tangan dan meminta-minta belas kasihan orang lain. Ia memang tinggal di rumah keluarga kakaknya. Namun itu tak membuat dirinya berleha-leha disana, ia giat bekerja serabutan untuk sedikit-sedikit membantu kakaknya. Mulai dari membantu tetangga memetik buah kelapa dari pohonnya, mencari batu di sungai untuk bahan bangunan, dan beternak ayam kecil-kecilan. Semua itu adalah pekerjaan-pekerjaan yang terdengar mustahil dikerjakan oleh seseorang yang hanya mengandalkan tangannya untuk melakukan segala hal termasuk berjalan. Tapi hal itu terbantahkan dengan apa yang dilakukan oleh pemuda ini. Dengan bantuan bambu, ia memanjat pohon kelapa dan memetik buahnya dengan hati-hati. Meskipun ia hanya berani memanjat pohon paling tinggi 5 meter, tapi butuh banyak keberanian dan ketangguhan untuk melakukannya meski oleh orang normal sekalipun. Dari pekerjaan itu, ia mendapat upah Rp 3.000 - Rp 5.000. Uang yang mungkin hanya cukup untuk makan satu kali. Tapi ia amat mensyukurinya.

Apabila tidak ada orang yang memerlukan jasanya memetik kelapa, ia akan mencari batu-batu di sungai untuk kemudian dijual untuk bahan bangunan. Di sungai ia mulai mengambil batu-batu dari dasar sungai dan melemparkannya ke tepi. Satu truk batu sungai dihargai Rp 15.000,00. Maka ia harus mengumpulkan batu sebanyak satu truk untuk mendapatkan uang sebesar itu. Tapi hingga tulisan ini dibuat, aku masih tidak bisa membayangkan bagaimana ia melakukan itu sendirian. Mengumpulkan batu sebanyak satu truk yang tentu saja jumlahnya tidak sedikit. Manusia normal pun belum tentu sanggup. Bahkan walaupun hanya sekedar melemparkan batu dari sungai ke tepi, sebanyak satu truk.

Tuhan itu Maha Adil. Meskipun Tuhan "mendisfungsikan" kakinya, tapi Tuhan memberikannya sepasang tangan yang sangat kuat untuk melakukan berbagai pekerjaan, termasuk berjalan. Tuhan telah menganugerahkan kepadanya sifat yang sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan ini. Meskipun banyak yang menghina keterbatasannya, namun dia tetap tegar dan menjalani segalanya dengan ikhlas.

Pasti kita bertanya-tanya apakah ia pernah mengeluh dengan keadaan dan kehidupan yang harus ia jalani sekarang. Sementara kita, yang baru diberi secuil cobaan saja sudah patah arang. Berapa persen dari kita yang lebih memilih mengakhiri hidup kita karena tidak kuat menghadapi masalah dan cobaan? Data statistik menyebutkan bahwa setiap jamnya ada dua orang manusia melakukan upaya bunuh diri.

Mungkin kita sering lupa bahwa, masih banyak orang-orang yang hidup lebih susah dari kita, masih banyak orang-orang yang diberi cobaan lebih berat daripada kita, dan kita juga sering lupa bahwa Tuhan tidak akan pernah memberi cobaan yang tidak bisa dilalui oleh umatNya. Dari situlah kita akan mulai mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Padahal semakin kita mengeluh, semakin berat terasa beban dan cobaan yang ada di diri kita. Jika kita menjalaninya dengan ikhlas, pasti akan terasa lebih ringan.

Mungkin tulisan ini terdengar klise. Tapi coba perhatikan dan resapi, seberapa seringkah kita mengeluh. Seberapa seringkah kita lupa bersyukur pada keadaan kita sekarang. Cobalah kita belajar dari kisah itu, bahwa bagaimanapun juga Tuhan tahu bahwa kita mampu, dan karena kita mampu, kita harus bisa mengalahkan segala cobaan dan tantangan yang membuat kita menyerah. Jika kita tidak punya kaki, kita masih punya tangan. Jika kita tidak punya tangan, kita masih punya kaki. Jika kita tidak punya keduanya, kita masih punya mulut. Yakinlah jika kita tidak memiliki sesuatu, kita masih punya sesuatu yang lain, yang mungkin lebih hebat dan lebih kuat dari yang seharusnya. Jangan sampai kita mengeluh kawan, karena itu akan membuat segalanya lebih berat dan lebih susah untuk dihadapi. Yakinlah bahwa kita bisa. Jangan mengeluh.. Jangan Menyerah.. =)

kepada seorang yang telah menjadi inspirasi dari kisah ini..
jangan khawatir,Allah telah mentakdirkan jodoh yang indah untukmu..
teruslah berdoa.. betapa Allah sangat menyayangimu..
=)

Selasa, 20 April 2010

pernahkah kau merasa terlalu banyak bicara?
dan ketika kau sadar, telah banyak luka yan tercipta karena ucapanmu
yang ada tinggal rasa penyesalan dan duka cita
serta berharap masih ada kesempatan untuk memperbaikinya..

Minggu, 18 April 2010

Thanks for being my parents...

Memiliki Papa dan Mama sebagai orang tua adalah anugerah terindah bagiku. Entah kenapa baru 2 tahun terakhir ini aku rasakan. Betapa durhakanya aku selama ini...
Masih teringat jelas dalam ingatan, aku pernah memberontak pada mereka ketika kami harus pindah ke kota lain. Aku bersikeras untuk tetap tinggal disana, hidup sendiri di kost-kostan, hanya karena tidak ingin berpisah dengan sahabat-sahabatku. Dan aku bersyukur, papa mama melarangku dengan cukup keras. Dulu aku berpikir mereka jahat, karena bersikap demikian. Namun sekarang aku mengerti dan bersyukur, karena aku tidak bisa membayangkan apa jadinya aku jika papa dan mama mengizinkannya.

Aku masih ingat ketika aku kelas 3 smp, aku mendapat nilai 6 untuk mata pelajaran Kewarganegaraan. Mata Pelajaran yang sangat mudah bagi Papa dan kakakku, tapi tidak bagiku. Nilai itu membuatku mendapat sindiran dari Papa, dan itu membuatku marah, sampai-sampai aku membanting pintu di belakangnya ketika Papa keluar dari kamarku. Seketika papa berbalik dan menjewer telingaku. Sakit sungguh, tidak hanya di telinga, tapi di hati... Tapi jeweran itu membuatku sadar, bahwa aku sudah terlalu kelewatan. tidak seharusnya aku bersikap demikian, betapapun marahnya aku. dan untuk papa, mungkin itu membuat beliau sadar bahwa gadis mungilnya ini tidak menuruni bakatnya di bidang Kewarganegaraan. Sehingga saat aku mendapatkan nilai C pada mata pelajaran yang sama di bangku kuliah, papa hanya bisa berkata "Ya sudahlah..."

Papa adalah sosok lelaki biasa yang bisa menjadi luar biasa bagiku, mama, dan kakakku. Dengan pekerjaan yang cukup beresiko, Papa mampu dengan sabar menjalaninya. Bekerja sama dengan mama menghemat pengeluaran, menghitung dengan cermat, dan mengalokasikan dana sesuai kebutuhan dengan tepat. Bagi mereka, mencukupi kebutuhan aku dan kakak adalah lebih utama.

Papa adalah seorang yang lucu, celetukan dan ucapannya acap kali membuat aku dan kakak tertawa. Banyak ciri-ciri khas Papa yang kadang membuatku tersenyum-senyum sendiri dibuatnya. Tapi Papa juga bisa jadi sangat pemarah, jika kami bandel. Aku masih bisa terbayang pada goresan luka yang dihasilkan dari sabetan sapu lidi yang dilayangkan Papa di lututku, karena kenakalan yang aku sudah lupa apa. Terdengar seram, tapi itu cara Papa mendidikku. Dan aku bersyukur, karena aku sekarang tidak tumbuh menjadi anak yang manja dan terlalu bergantung pada orang lain.

Kata eyang, aku dan Mama memiliki weton yang sama. Oleh sebab itu kami sering sekali bertengkar. Aku tidak suka dinasehati Mama. Terlalu panjang lebar, tentang sesuatu yang aku sudah tahu. Dan aku sudah cukup besar untuk tahu. Begitu pikirku dulu. Tapi aku baru menyadari, bahwa orang pertama yang aku ingat dan kupanggil saat aku sakit adalah Mama. Orang pertama yang ku minta doanya saat aku sedang akan menghadapi sesuatu yang besar adalah Mama. Bahkan baru-baru ini aku menyadari bahwa banyak ucapan Mama yang benar. Berbeda dengan yang ada dalam pikiranku dulu.

Saat aku SMP, aku selalu berpikir aku sudah cukup besar dan mandiri untuk hidup sendiri. Mungkin wajar, di usia itu kebanyakan remaja berpikir bahwa mereka cukup besar untuk dilepas sendiri. Namun, saat aku SMA, saat aku harus hidup jauh dari Papa dan Mama, aku baru sadar bahwa aku sangat kehilangan. Bahwa aku sangat merindukan saat-saat bersama mereka, setiap hari, seperti 14 tahun sebelumnya. Bahwa aku iri melihat sepupuku, yang bisa menghabiskan waktu bersama ayah dan ibunya. Aku iri melihat teman-temanku diambilkan rapornya oleh ayah atau ibu mereka. Harus kuakui masa SMA adalah masa terburuk yang pernah kulalui dalam hidup. Banyak orang yang berkata bahwa masa SMA adalah masa-masa terindah yang mereka lalui, bahkan Papa juga berkata begitu. Tapi kali ini Papa salah, bukan kali ini mungkin, tapi untuk kasusku, Papa salah. Masa SMA adalah masa-masa yang paling ku benci dalam hidupku. Masa yang tidak ingin aku ingat kembali. Jauh dari orang tua, teman yang tidak tulus, pacar yang overprotectif, guru yang menyebalkan, sekolah yang mata duitan dengan peraturan yang tidak rasional, perasaan yang labil, dan kehilangan pegangan. Seandainya aku saat itu masih tinggal serumah dengan Papa Mama, mungkin akan beda endingnya. entahlah..

Saat kuliah, aku berpikir, tak kan ada yang beda, toh SMA pun aku tinggal jauh dari orang tua. Di saat kawanku sedang mengalami homesick di awal-awal kuliah, aku tenang-tenang saja. Tapi justru, saat kuliah sudah jalan 1tahun, aku mengalami homesick yang cukup parah. 1minggu penuh aku merasa sangat lemas, dan ingin pulang. Mulai saat itu, aku sadar, bahwa hingga kuliah pun aku masih belum siap tinggal jauh dari Papa dan Mama. Mungkin tidak akan pernah siap. Dulu, aku sebal karena Papa Mama tidak pernah absen menelponku setiap hari, siang dan malam. Tapi sekarang, saat Papa dan Mama sudah mulai jarang menelpon, aku merasa agak aneh dan kehilangan. hahaha... Tapi aku rasa dengan Papa Mama tidak menelpon tiap hari itu lebih baik, karena membuat kami merasa rindu. Sehingga menelpon tidak hanya menjadi mengecek posisi, tapi juga banyak bercerita tentang hari-hari kami.

Pertemuan yang jarang, membuat waktu berjumpa kami menjadi sangat berharga. Saat aku masih SMA, apabila liburan terlalu lama dan banyak waktu yang dihabiskan bersama Mama dan Papa malah membuat kami bertengkar di akhir liburan. Tapi sekarang menjadi sangat berbeda. Meskipun hanya di rumah setiap hari, hanya tidur-tiduran, sesekali membantu Mama masak, ikut belanja di pasar sebelah atau ikut mennjemput Papa dari kantor, tidak membuat aku bosan. bahakan menjadi saat-saat yang aku rindukan saat kami jauh.

Tak banyak yang bisa aku berikan pada Papa dan Mama, yang bisa ku lakukan saat ini adalah, membuat mereka bangga mempunyai anak sepertiku. Meski berat, tapi aku akan terus mencoba.

Hal yang sulit aku lakukan adalah mengatakan betapa sayang dan kangennya aku pada Mama dan Papa, secara langsung. Aku terlalu canggung untuk melakukan itu. Tapi aku berharap Papa dan Mama tahu, betapa aku menyayangi dan merindukan mereka. Betapa aku bersyukur memiliki orang tua seperti mereka, bersyukur bahwa aku diberi kesempatan untuk menjadi anak Papa dan Mama. I Love you Mom, I Love you Dad, forever and foralways...