Senin, 18 Juli 2011
Surat Cinta Kecil darimu yang Tercinta :)
p**** fara* ***dida adalah seorang mahasiswa di BDP FPIK undip angkkatan 2008.dia bukan orang spesial, dia hanya wanita biasa saat pertama bertemu.but she has a secret talent. dia luar biasa dengan keberaniannya dan kemauannya yg keras.hingga beberapa orang sangat kagum pada dia.she is a lovable person.sangat peduli dengan teman2nya.dia adalah teman yang benar-benar teman. berteman untuk kebenaran tentunya. dan dia juga termasuk teman saat aku mulai berani membuka diri. bertemu didunia maya yang tak sengaja. sangat menyenangkan menjadi temannya,dia memotivasi, menyemangati dan tak pernah merendahkan bahkan menghina, hingga aku merasa berubah karna dia. di dunia maya yang sangat menyenangkan untuk seorang can*** a**** *****sunu yang notabenenya sebagai orang pendiam dan tertutup,dia berhasil membuka ketertutupanku. membuat aku sangat nyaman. hingga tak terasa aku jatuh cinta. cinta yang tak ada maksudnya, tak ada asal mulanya dan tak ada tujuannya. dan dia berhasil mengalihkan duniaku. dia bisa membawaku melihat bahwa dunia ini masih luas. memberi kenyamanan disetiap inginku dan aku kencanduan dia. hingga tak tersadar dia sudah menggantikan tempat dihatiku. dan sekarang dia adalah pacar aku, sangat perhatian, sangat baik, mau menerima aku apa adanya, menerima berbagai kekuranganku, menjadi motivasiku, menjadi inginku dan cintaku. akupun merasakan kamu sayang aku, sangat sayang, total buat aku, aku ngerasain itu. taukah kamu bahwa kamu adalah nafasku, aku tak bisa tanpa kamu. dan taukah kamu, tidak ada orang lain yang lbih mengerti aku, kecuali kamu. aku sayang bgd sm km. tetaplah jd yg no1 dihatiku, aku sayang kamu. :)
canihe_sunu
4 Juli 2011
00.10 WIB
Jumat, 15 Juli 2011
Tuhan, Aku Hanya Jatuh Cinta

Sebelum kalian menghujatku, atau sekedar berspekulasi tak tentu di belakangku. Tolong dengarkan terlebih dahulu penjelasanku. Entah akan berguna atau tidak. Entah berpengaruh atau tidak.
Ya. Aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Seseorang yang tak ku sangka sama sekali. Seseorang yang bahkan tak pernah ku pinta untuk menjadi seseorang yagn ku cintai. Tetapi ternyata memang benar, tidak ada persahabatan abadi antara perempuan dan laki-laki. dan begitulah yag terjadi pada kami berdua. Awalnya kami hanya berteman seperti biasa, saling bertukar cerita dan curahan hati, hingga akhirnya kami menyadari bahwa kami saling jatuh cinta. Tidaklah salah bukan? :)
Yang membuatnya menjadi salah adalah, sahabatku ini, seperti yang kalian tahu, tidaklah sendiri. He's in a relationship. (Bahkan ada yang menempelkan stempel di tubuhmu sebagai pemilikya. Seolah kamu tak bisa kupegang, kurasa, kucinta karena sudah ada yang punya ~ Fira Basuki.) Sehingga segalanya yang berhubungan dengan jatuh cinta ini menjadi salah. Aku jatuh cinta pada orang yang salah. Tapi pertanyaannya, salahkah kita apabila jatuh cinta?
Aku cukup mengerti, dan cukup tahu diri bahwa ini salah. Begitupula dia. Kami berusaha untuk tidak membiarkan ini semua berlarut-larut. Sungguh, kami sudah berusaha. Tetapi, entah mengapa semua perasaan itu, justru semakin berkembang. Berawal dari nyaman, berkembang menjadi peduli, lalu sayang, kemudian rindu, hingga menjadi cinta, lalu mulai di bumbui cemburu.
Cinta ini sederhana saja, hanya ingin melihat dia bahagia. Demikian pula ia, hanya ingin melihatku bahagia. Maka aku selalu mendukungnya untuk terus mencintai pasangannya seperti dulu-dulu. Dan dia selalu mendukungku untuk menemukan yang baru, menemukan orang lain yang lebih baik dan lebih "legal" untuk dimiliki. Hingga akhirnya aku pun berusaha untuk belajar mencintai seseorang yang lain. Seseorang yang luar biasa baiknya, banyak kelebihannya, sehingga aku berusaha menanamkan dalam pikiranku kalimat "apa yang kurang dari dia?"
Tapi ternyata, tidak semudah kelihatannya. Perasaanku tak juga berubah, dan seseorang tersebut memintaku untuk segera memberikan jawaban, sedangkan aku belum bisa memberikan hatiku padanya, dan aku pun tidak ingin membuatnya menunggu hal yang tak pasti dariku. Maka kisahku dengannya pun tutup buku.
Ternyata cinta membuat sengsara. Itu yang kurasa saat itu. Selama ini aku berharap pada Tuhan agar diberi kesempatan untuk jatuh cinta, bukan belajar mencintai. Tetapi ketika Tuhan mengijinkannya, aku jatuh cinta pada seseorang yang tak dapat ku miliki. Tapi aku percaya, Tuhan pasti punya rencana.
Aku tahu bahwa cintaku dengan sahabatku ini tidak akan berjalan dengan semestinya. Tapi aku dan dia pun tak dapat memungkiri bahwa semakin hari cinta itu semakin nyata dan semakin menjadi tidak sederhana. Ya. Kami ingin memiliki, kami ingin diakui. Hingga akhirnya perlahan-lahan keputusan mulai kami ambil. Satu per satu. Dia berpisah. Kami berpisah. tidak lama memang. Karena cinta dan rindu mempertemukan kami kembali. Hingga sekarang.
Mungkin aku memang orang yang jahat, yang menyakiti banyak hati manusia. Tapi seadainya saja kalian tahu bahwa tak ada satupun niat untuk menyakiti kalian semua. Aku hanya jatuh cinta. dan aku tidak tahu harus menyalahkan siapa atas perasaan yang tidak ku minta ini. Aku tidak bermaksud berrahasia. Aku hanya terlalu takut mengahdapi kenyataan ketika kalian tahu nanti, karena akan menyakitkan kalian. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu, hatinya, hatinya, hatinya, dan hatinya. Semoga kalian mengerti.
terimakasih telah memberi kesempatan untuk mengenalmu.
Kamu pantas mendapatkan yang jauh lebih baik.
berbahagialah:)
Jumat, 15 April 2011
Saya Hanya Ingin Diakui
saya takut menjadi hilang akal lalu kendali..
saya takut tidak bisa apa-apa...
karna tak ada seorang pun yang mengakui..
saya takut orang menyangka saya tidak waras..
padahal saya lebih dari waras...
paling tidak untuk mengakui bahwa saya agak tidak waras..
karena ketakutan orang lupa bahwa saya waras..
jangan tanya saya mengapa..
karna tak akan pernah ada jawabnya..
jika kalian saja tidak tahu, bagaimana pula dengan diriku,
jika kalian bisa bertanya semudah itu,..
seandainya saja saya bisa menjawab semudah itu pula..
Beruntunglah anda jika anda adalah orang yang dicintai oleh lingkungan. Betapa kehadiran anda akan selalu berarti, betapa ketidakhadiran anda akan membuat suasana akan terasa kurang. atau paling tidak, ketika anda bicara maka orang akan berhenti bicara pula dan mendengarkan anda.
Namun, bagaimana jika tidak? bagaimana jika anda adalah orang yang tersisih di dalam lingkungan anda? bagaimana jika ada atau tiadanya anda tak kan begitu berpengaruh dalam lingkungan? bagaimana jika anda bicara hingga berbuihpun , tidak ada satupun yang memperhatikan apalagi mendengarkan? dan semua itu bukanlah sesuatu yang anda inginkan. tapi terjadi karena ketidakmampuan anda sendiri.
Mari lihat ke diri kita sendiri, sudah cukup baikkah kita, sudah cukup memberi manfaatkah kita, sudah cukup haluskah perkataan dan perilaku kita, sudah cukupkah kita menghargai sesama, sudah cukup kah kita membentuk pribadi kita menjadi pribadi yang bisa diterima, diakui dan disukai lingkungan?
Tidak juga menemukan jawabannya? tanyakanlah pada sahabat anda... tanyakanlah pada keluarga anda... tanyakanlah pada orang terdekat anda..
:)
Kamis, 10 Maret 2011
Cinta dalam Puisi
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku melangkah ke depan kelas, memandang berkeliling dan mendapati semua mata teman-teman sekelasku memandangku antusias. Hanya sepasang mata yang tak tertuju padaku, dan lebih memilih memandang entah apa di atas mejanya, Sama seperti yang sudah lalu. Aku menarik nafas dalam dan menghelanya perlahan. Lalu ku mulai bacakan puisi:
Aku memendam gelisah ini berhari-hari
Memendamnya dalam kepahitan
Menguburnya dengan senyum penuh kepalsuan
Aku memendam gelisah ini berminggu-minggu
Membuatmu bertanya
Apakah gerangan yang telah terjadi padaku
Aku memendam gelisah ini berbulan – bulan
Membuatmu gerah dan bosan
Lalu kau menyerah dan pergi berpaling
Aku memendam gelisah ini bertahun – tahun
Membuatku gila dan sadarku hilang
Karna letih menunggumu kembali pulang
Tepuk tangan seisi kelas mengakhiri puisiku. Aku tersenyum tersipu sambil membungkukkan badan dan mengucap terima kasih. Saat kembali ke tempat dudukku, sekilas ku lirik seseorang yang duduk di kursi pojok, seseorang yang sepasang matanya tak mau melihat ke arahku saat di depan tadi, dan kinipun reaksi yang sama ia tunjukkan seakan tak peduli dengan riuh gemuruh tepuk tangan dari teman-teman sekelas.
Aku tidak gila tepuk tangan. Aku juga bukan banci tampil yang gila perhatian. Aku hanya ingin tahu, apakah ada yang salah denganku, ataukah ada sesuatu dariku yang membuatnya benci. Aku hanya ingin tahu, mungkinkah dia tidak suka dengan puisi-puisiku, atau tidak suka dengan caraku membacakan puisi. Tapi saat aku menyanyi di depan kelaspun dia tak mau melihatku. Seburuk-buruknya suaraku, paling tidak teman-teman yang lain masih ada yang mau mendengarkan.
“Terima kasih Vidya. Terus asah lagi kemampuanmu.”, suara Bu Muti membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum simpul dan mengangguk.
* * *
Aku senang menjadi bintang sekolah. Selalu menjadi pusat perhatian. Aku menikmati menjadi pusat perhatian banyak orang. Rasanya seperti semua orang menyayangimu. Atau mungkin sekaligus bisa saja membencimu. Tapi aku suka melakoninya. Sebenarnya aku tidak pernah meminta untuk menjadi bintang sekolah. Aku hanya melakukan apa yang ku suka, dan mengejar apa yang aku inginkan. Aku suka belajar , aku suka puisi, aku suka menyanyi, aku suka teater. Namaku selalu ada dalam daftar jika ada acara atau lomba-lomba yang berkaitan dengan bidang-bidang tersebut. Dari situlah predikat bintang sekolah melekat di bahuku. Sejajar dengan bintang sekolah lain dalam bidang olahraga, pidato, debat, tari, cheerladers, band, dan lain-lain.
Tapi ada satu yang mengganjal hatiku. Setiap orang selalu bilang bahwa mereka senang berteman denganku. Kata mereka aku cantik, ramah, berbakat, dan cerdas. Tanpa ada niat untuk sombong, aku senang dengan pujian-pujian itu. Hampir tidak ada yang membenciku. Hanya satu orang yang tidak mau berteman denganku. Orang yang sama yang tidak mau melihat aku saat aku tampil di depan.
Dewandaru Agung Pratama… laki-laki tinggi berkacamata yang pendiam. Sosok yang hanya menjadi pendengar dalam gerombolan teman-temannya. Kadang menimpali sedikit jika perlu. Selebihnya hanya mendengar dan memberi reaksi saat harus tertawa atau tersenyum. Dia bukan laki-laki yang selalu mengikuti tren baju terkini. Dia biasa saja, dia hanya pintar, itu menurut teman-temanku. Tapi menurutku dia manis, dan punya kepribadian yang unik. Aku ingin mengenalnya lebih jauh, tapi reaksi negatifnya terhadapku membuatku tak punya nyali untuk berkawan dengannya.
Aku menghela nafas. “hhuft.. ya sudahlah..” ujarku. “ha? Apanya yang sudah vid?” tanya Dani teman sebangkuku mengagetkan. “ah, bukan apa-apa kok.” Jawabku gelagapan. “Melamun terus dari tadi, itu catatan sudah tiga kali papan tulis tapi belum ada satupun yang kamu tulis.” ujar Dani. Aku kaget, ternyata aku melamun cukup lama. Sambil tersenyum nakal aku berkata, “Tenang saja, aku masih bisa pinjam catatanmu kan, Dan.” Yang diajak bicara hanya bisa melengos, “Dasar. Sudah kuduga…”
* * *
“Vid, lagi dimana kamu? Teman-teman sudah datang semua.” ujar Mas Agus dari seberang telepon. “Iya, mas. Ini aku baru sampai di pintu gerbang, padahal sudah lari-lari segala. Tadi mampir ke toko dulu, beli peralatan buat dekor.” Jawabku sedikit terengah-engah.”ya sudah, cepat ke aula. Ditunggu.”
Hari ini benar-benar hari yang sibuk. Besok adalah hari pementasan drama dari teater sekolah. Kebetulan aku yang didaulat menjadi ketua panitianya. Tak ayal, aku dibuat kalang kabut karenanya. Satu hari sebelum hari H, aku harus memeriksa keadaan dekorasi, kostum, make up, konsumsi, tiket, dan lain-lain. Belum lagi aku juga harus gladi bersih, karena aku juga turut ambil bagian dalam pentas drama ini, meskipun hanya menjadi bagian hiburan di awal pentas.
“Nah, akhirnya datang juga kamu. Ayo cepat, tinggal kamu yang belum gladi bersih. Lagian, kamu itu ketua panitia, masa kamu juga yang beli peralatan dekor? Mana seksi perlengkapan kamu?” semprot Mas Agus, setibanya aku di aula.
Segera aku berlari kecil ke atas panggung, menemui Yudha yang sudah siap disana. “Tarik nafas dulu. Baru latihan.“ bisik Yudha bijak. Aku tersenyum, mengatur nafasku pelan-pelan, lalu bersiap.
Petikkan gitar Yudha mengalun pelan, kurasakan iramanya, sambil mengira-ira kapan saat yang tepat aku akan masuk mulai membacakan puisi. Tiba-tiba, mataku menangkap seseorang yang berdiri bersandar di pintu aula, menyilangkan tangannya di dada, memandang lurus ke panggung, tepat dimana aku berdiri. Aku terpaku dan tercekat. Suaraku tersendat di tenggorokan. Suara gitar masih mengalun dan Yudhapun sudah berdehem pelan di sebelah, tandanya bahwa aku sudah harus masuk dalam irama untuk membacakan puisi. Tapi suaraku masih di ambang tenggorokan, menolak untuk keluar karena pemandangan di hadapanku. Sesorang yang tengah melihat ke arahku, yang ku tahu untuk pertama kalinya, tidak sama dengan yang sudah – sudah, karena dia ada disana melihatku.
Sebuah kekuatan baru menyelimutiku, suaraku pun berhasil keluar dari tenggorokan, maka ku mulai dengan kalimat pertama dalam puisiku, pandanglah aku seindah itu…
* * *
Usai gladi bersih dan sedikit briefing, aku bergegas untuk pulang. Sampai di depan pintu aula, Dewa sudah tidak ada disana. Kecewa, aku pun pulang dengan langkah gontai. Sambil menunggu angkot, aku membeli minum di warung kecil dekat sekolah. Tak jauh dari warung itu, aku melihat Dewa sedang duduk di kios tukang tambal ban.
“Dewa?” kataku spontan dan sedikit kaget mendengar suaraku sendiri. Si empunya nama pun menoleh, tersenyum singkat dan menjawab pelan “hei..”
Aku gelagapan, tidak siap, karena memang tidak berencana memanggil. Karena terlanjur, segera ku bayar minumanku dan menghampirinya.
“Bannya bocor?” tanyaku bodoh. Sambil dalam hati merutuki pertanyaan bodohku itu. “Iya, kena paku.” jawab Dewa. “ooh…” cuma itu yang keluar dari mulutku. Hening sejenak. Lalu dengan nekat aku bertanya, “Aku tadi lihat kamu di aula, menonton gladi bersih. Tumben?” Tanpa melihat ke arahku Dewa menjawab, “Kebetulan saja. Daripada bosan menunggu ban selesai di tambal. Tadi antri banyak banget. Jadinya aku jalan-jalan ke sekolah. Waktu lewat aula, aku lihat kamu sedang dipanggung. Iseng saja ingin lihat.” Aku terkesima dan tak bisa mengeluarkan kata apa-apa. Itu adalah kalimat-kalimat terpanjang yang pernah aku dengar dari mulutnya.
Melihatku terdiam terkesima seperti itu Dewa pun heran dan bertanya, “Kenapa?” “eh,,oh, emm.. tidak kenapa-kenapa kok. Aku kira kamu tidak suka puisi dan sebagainya.” Jawabku. “Tidak juga. Kadang-kadang aku juga suka baca Kahlil Gibran atau Rabindanath Tagore.” kata Dewa sambil terus memperhatikan tukang tambal ban menyelesaikan pekerjaannya. Kalau begitu, dia pasti tidak suka padaku, kataku dalam hati. Dadaku tiba-tiba agak sesak menerima kenyataan itu. Tapi sudahlah, aku juga tidak bisa memaksa dia untuk menyukai aku.
“Aku pulang dulu ya” kataku sambil melangkahkan kaki untuk pulang tanpa menoleh ke arah Dewa. Tiba-tiba, tanganku ditarik olehnya, aku menoleh, tanpa memalingkan muka dari motornya dia berkata, “Aku antar. Sudah mau maghrib. Bahaya.” Aku memandangnya lekat-lekat tak percaya, tak tahu harus menjawab apa. Dia menoleh kepadaku dengan tampang heran, “Kenapa? Takut aku culik?” “oh, eh, ah, kamu ini jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku tahu kok kamu tidak akan menculikku.” Jawabku dengan muka memerah karena malu.
Sepuluh menit kemudian aku sudah duduk di jok belakang motor Dewa, dan kami pun melaju membelah jalanan maghrib menuju rumahku. Sepanjang perjalanan kami hanya diam, tak sepatah katapun terlontar dari bibirnya juga bibirku. Kikuk memang terus-terusan diam seperti itu, tapi aku terlalu gengsi untuk memulai pembicaraan. Dia bahkan tidak menanyakan alamat rumahku. Yang aku tahu setengah jam kemudian kami sudah berhenti di halaman depan rumahku.
Sambil turun dari motor aku menawarkan, “Mampir?” agak berbasa-basi untuk menjaga kesopanan. “Boleh..” jawab Dewa sambil melepas helmnya. Aku terkesiap dengan jawabannya, aku pikir dia akan menolak. Dewa menatapku, “Kenapa? Aku hanya ingin numpang sholat. Kalau aku pulang sekarang, sampai rumah sudah isya. Boleh tidak?” Gelagapan aku menjawab, “eh, boleh kok boleh… Silakan… Silakan… Tidak usah malu-malu.” sambil menunjukkan jalan masuk ke rumahku.
- B E R S A M B U N G -
Selasa, 08 Maret 2011
Inginku Bukan Tawaran
tempatnya di dalam pikiran
tujuan bukan utama
yang utama adalah prosesnya
(Iwan Fals)
Maka biarkan aku lebur dalam derita itu
Karena keinginanku tak bisa lagi ditawar
tidak dengan bujuk rayu
atau iming-iming berhadiah
Jika keinginan bersumber dari pikiran
maka biarkan pikiranku terus hidup seperti ini
Karena keinginanku tak bisa lagi ditawar
tidak dengan bujuk rayu
atau iming-iming berhadiah
Keinginanku adalah kamu
keinginan adalah sumber penderitaan
kamu adalah sumber penderitaanku
Keinginan ada di dalam pikiran
kamu selalu ada di dalam pikiranku
Jika keinginan tidak mencari tujuan
maka biarkan aku berjalan tak tentu arah
karena keinginanku tak bisa lagi ditawar
tidak peduli dengan rintangan
atau proses yang membuat lelah
19 Agustus 2009 - - 9.52 p.m.
Kamis, 03 Februari 2011
Sudahkah Saya Menjadi Anak yang Sholeh?

Sebelumnya saya ingin menambahkan bahwa saya tidak menggurui kepada siapapun yang membaca tulisan ini. Saya juga bukan tauladan yang baik untuk anda semua. Saya hanya ingin membagi perasaan dan pemikiran saya.
Saya sayang dengan orang tua dan keluarga saya. Bagaimanapun merekalah yang melahirkan saya, membesarkan saya, membimbing saya, dan mencukupi segala kebutuhan saya dari materi hingga kasih sayang yang tidak henti-henti. Bagi saya, keluarga adalah segala-galanya. Bukan hanya orang tua, tapi kakek-nenek, om tante, sepupu, semua turut andil dalam membentuk karakter saya saat ini. Dari mereka saya belajar banyak, dan saya pun mendapat kasih sayang yang sangat berlimpah.
Sampai akhirnya sesuatu yang "sudah seharusnya", terjadi dalam hidup saya. Eyang kakung saya tercinta dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Rasanya seluruh dunia saya berhenti seketika. Hampir tidak percaya, dan benar-benar panik. Karena rasanya belum banyak hal yang dapat saya lakukan untuk membahagiakan beliau, membuat beliau bangga pada saya. Tapi rasanya sudah tidak mungkin, hingga saya teringat pada hadits Rasul.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila seorang anak Adam mati maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang selalu mendoakannya.”
(Hadits shahih riwayat Muslim).
Saya bukanlah ahli agama. Bisa dibilang pengetahuan dan pendalaman saya tentang agama masih sangat sedikit. Ketika saya membaca hadits tersebut, yang ada dalam pikiran saya adalah : Anak sholeh kah saya?
Saya tahu, urusan dosa dan pahala adalah diatur oleh Allah swt. Oleh sebab itu, saya jadi berfikir, sudah cukup soleh kan saya, sehingga dapat menyambung amal bagi orang tua saya nanti? sudah cukup soleh kah saya untuk membantu orang tua saya di akhirat nanti? Bagaimana jika saya tidak cukup soleh untuk itu?Bagaimana jika saya justru menjerumuskan mereka ke dalam siksa akhirat, hanya karena saya tidak mau menjadi anak baik-baik yang sholehah?
Sedih rasanya jika berfikir demikian. :( Tapi kita sebagai manusia hanya bisa berusaha. Karena kita tidak tahu, apakah selama ini amal baik yang kita tabung sudahkah cukup atau belum. Kita tidak tahu, apakah ibadah kita selama ini diterima atau tidak. Apakah ibadah anda dan saya sudah baik? Wallahualam...
Wallahualam... Hanya Tuhan yang tahu,,, hanya Tuhan yang bisa menilai kualitas ibadah kita,, hanya Tuhan yang berhak membeda-bedakan kita sesuai tingkatan amal perbuatan kita.
Ketika kita mensejajarkan dua orang yang berbeda, satu orang yang baik, ramah, disukai banyak kawan. Kemudian dengan orang lain yang tidak banyak kawan, judes, dan sebagainya. Sebagai seorang manusia kita pasti akan lebih memilih orang yang pertama. Tapi bagaimana jika, orang kedua, yang tidak kita sukai tersebut, ternyata lebih tinggi derajatnya di mata Allah dibanding dengan orang yang pertama? atau bahkan dengan kita? bagaimana jika kita, di mata Allah, tidak lebih baik dari orang yang tidak kita sukai tersebut? Saya sering merasa miris sendiri jika berfikir demikian. Bukankah ironi sekali? Bukankah seharusnya kita malu pada Allah? Seharusnya saya malu pada Allah, karena sering bersikap demikian pula. :(
Tapi lagi-lagi, semua ini kembali ke diri kita, lalu baru bergerak vertikal lurus ke Allah. Kita hanya bisa berusaha, segalanya Allah yang menentukan. Namun jangan pesimis, karena Allah pasti akan menunjukkan jalan bagi umatNya yang mau berusaha. Allah juga tidak akan membiarkan hambaNya yang sudah berusaha, tersesat di jalan yang salah. Mari kita sama-sama berusaha untuk menjadi paling baik di mata Allah swt. Saya juga tidak pesismis, saya akan terus berusaha menjadi anak sholehah. Mari kita berusaha untuk menjadi anak sholeh bagi kedua orang tua kita. Lalu jangan lupa, doakan mereka agar tidak terputus amalnya. :)
“ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO”
Selasa, 01 Februari 2011
Tentukan Cita-Citamu
di atas motor
Vero : "wah,, kita mau berangkat kerja. hahaha"
Saya : "hahaha.. cuma PKL ini"
Vero : "nggak kerasa ya sebentar lagi udah mau lulus terus kerja"
Saya : "iya nich, udah semester 6 aja kitanya."
Vero : "padahal tingkah polahnya kita masih kayak anak kecil semua ya? hahahaha"
Saya : "hhaa.. iyaa,, padahal udah kepala dua ya..."
Saya malah jadi kaget sendiri dengan kata-kata saya. Saya baru ingat kalau saya sudah menginjak usia 20 tahun. Well, saya akui saya memang masih suka lupa jika saya ini sudah berkepala dua. Selain karena faktor masih suka bermain-main, juga mungkin karena faktor badan saya yang tidak terlalu tinggi dan besar, yang katanya masih pantas jika memakai seragam smp. -___-" pendapat yang terakhir itu, tolong diabaikan.
Saya kemudian berfikir, bahwasanya saya sudah sampai di tahap ini. Seorang wanita, berumur 20 tahun menginjak 21, mahasiswi tingkat 3, yang sudah hampir lulus, Insya Allah. Tapi sampai detik ini saya masih belum bisa melihat dengan pasti kemana arah tujuan hidup saya, dan sampai sejauh ini pencapaian apa yang telah saya dapat dalam hidup. Terus terang saya masih merasa biasa-biasa saja. Seorang mahasiswi biasa, dengan kemampuan biasa, dan prestasi biasa.
Padahal saya tidak menampik, ada keinginan dalam diri saya untuk menjadi orang di atas rata-rata. Paling tidak bisa setingkat lebih baik di atas orang lain.
Dulu saat saya masih kecil, jika melihat umur 20 tahun ke atas, kesannya pasti adalah orang dewasa yang matang dan berwibawa, punya tujuan hidup yang pasti dan yang jelas berkarakter. Tapi pada kenyataannya adalah, tidak semua orang yang berumur 20tahun demikian. Tak jarang saya menemukan orang yang berumur 20tahun, atau lebih, namun pemikirannya masih seperti anak kecil. Belum memiliki tujuan dan arah hidup yang pasti, masih suka bermain-main. Saya akui mungkin saya termasuk orang yang demikian pula. Bertingkah seperti anak kecil mungkin sesekali, tapi untuk tujuan hidup? hmm... entahlah...
Setahu saya, orang yang tidak memiliki tujuan hidup adalah orang terlabil di dunia. Karena seseorang dilahirkan untuk hiduo di dunia, yang hanya sementara, lalu apabila ia tidak memiliki tujuan hidup, "terus lo ngapain disini??" . Ibaratnya seperti seseorang yang naik bus kota tapi tidak tahu kemana tujuan ia berhenti nantinya. Maka mungkin ia hanya naik bus tersebut, mengikuti kemana ia melaju, sampai bensinnya habis, atau jika ia tidak beruntung, diturunkan dan dicaci-caci kernet karena tidak punya tujuan.
Saya mungkin akan kesulitan untuk menjawab tujuan hidup saya. Seperti makhluk Tuhan lainnya, tujuan hidup saya adalah masuk surga. Tapi selain itu selama hidup di dunia ini, saya juga ingin menjadi seseorang yang berarti, bermanfaat, hingga ketika mati nanti, nama dan karya saya masih akan terus dikenang sepanjang masa. Tapi masalahnya adalah, saya tidak tahu, mau jadi apa saya ini.
Sampai di usia 20tahun ini saja, yang saya lakukan hanyalah mengikuti arus takdir yang dituliskan Tuhan. Hal ini mulai saya lakukan ketika saya masuk kuliah pertama kali. Karena sama sekali saya tidak pernah membayangkan harus masuk dan kuliah di jurusan saya sekarang ini. Pada awalnya saya protes kepada Tuhan, tapi kemudian hari saya bersyukur atas pilihan Tuhan. Dari situ saya mulai belajar bahwa bagaimanapun rencana dan mimpi-mimpi yang kita inginkan, tetap Tuhanlah yang tahu bagian mana yang terbaik untuk kita. Oleh sebab itu, saya mulai menjalani semua hal yang Tuhan takdirkan pada saya. Saya hidup mengikuti arus, seolah-olah tanpa beban. Apapun yang Tuhan berikan saya terima. Tapi menerima segala sesuatunya ternyata bukanlah hal yang mudah. Saya melihat orang-orang disekeliling saya, betapa mereka bersemangat berusaha mengejar segala sesuatu yang mereka sebut cita-cita. Saya sendiri bahkan lupa kapan saya terakhir kali memiliki cita-cita.
Rasanya menyakitkan sekali, ketika semua orang disekelilingmu sibuk jungkir balik, rela mengorbankan ini itu untuk suatu tujuan dan cita-cita yang pasti. Sementara kamu hanya berjalan ditempat sambil melihat orang lain jatuh bangun diatas kaki mereka. Ketika orang lain jatuh satu kali, mungkin kamu akan melihatnya dengan tatapan kasian. Ketika orang tersebut jatuh dua kali, mungkin kamu akan berkata : betapa bodohnya. tapi ketika kamu melihat orang yang sama jatuh berkali-kali, pasti kalian akan berfikir, untuk apa? Untuk apa ia rela jatuh bangun, dan bersakit-sakitan. Menyesakkan ketika mengetahui bahwa ternyata ada cita-cita yang sedang ia perjuangkan disana.
Kemudian saya mulai mengorek-orek kembali kenangan-kenangan masa kecil saya. Ketika ditanya : "adek cita-citanya apa?" saya kecil (SD Kelas 4) akan spontan menjawab designer. Didorong oleh hobi menggambar perempuan, saya kemudian tertarik untuk menjadi designer, meskipun tanggapan papa cukup menyakitkan : "kamu mau jadi penjahit?". Seiring berjalannya waktu, keinginan tersebutpun menghilang, dengan semakin menurunnya kemampuan menggambar saya. Kemudian saya bercita-cita menjadi penulis, karena kesukaan saya membaca novel. Tapi karena tidak telaten menulis, maka disinilah saya, hanya menjadi penulis blog sederhana yang tidak tahu apakah ada orang diluar sana yang membaca dan mengikuti tulisan saya.
Saya juga sempat berkeinginan menjadi seorang psikolog.Tapi apa daya, jurusan psikologi masuk ke jurusan sosial. Sementara saat SMA saya di jurusan sains, walhasil saya tidak jadi mendaftar kesana. Ditambah pula dengan ketidaksetujuan eyang ibu. Kata beliau, "Itu lho dokter psikolog di RSU nggak ada pasiennya." Meskipun saya menuruti, tapi saya tidak mengamini pemikiran beliau itu. Singkat cerita, sampailah saya pada jurusan ini. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, program studi Aquaculture. Dan rasanya sudah pasti mustahil jika pada saat ini saya bercita-cita untuk menjadi dokter. Lalu bagaimana nasib cita-cita saya?
Seperti yang bisa dilihat dari tulisan saya di atas, hidup saya memang banyak dipengaruhi oleh orang-orang terdekat saya. Mulai dari orang tua, eyang, kakak, om, tante dan lainnya. Saya memang seorang family oriented. Hampir segala sesuatu yang yang saya putuskan, saya diskusikan dulu dengan keluarga. Mungkin inilah yang sedikit "menghambat" saya untuk memilih cita-cita saya. Saya sedikit menjadi agak paradoid, jika ternyata cita-cita saya tidak disetujui oleh keluarga. Juga banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus saya ambil sebelum menentukan cita-cita saya.
Pada usia yang ke 20+ ini, saya memutuskan untuk memiliki cita-cita,
1. Lulus kuliah sebelum usia 22tahun, dengan IPK diatas 3,6
2. Melanjutkan S2 di Korea/Jepang/Perancis/Australia/Kanada
3. Menjadi dosen dalam rangka mewujudkan keinginan papa, serta menjadi pengusaha tambak yang sukses sesuai keinginan pribadi.
4. Menemukan jodoh dan menikah sebelum 25 tahun.
Jangan tertawa. Sila anggap ini adalah cita-cita orang pada umumnya. Karena memang demikian adanya. Tunggu sampai anda berkepala dua, anda pasti akan mengerti.
Saya memang ingin membuat pencapaian tinggi, tapi saya baru berani memanjat, bukan langsung meloncat terbang melesat. Saya memang ingin mencapai tujuan yang pasti, tapi belum berani langsung berlari, paling tidak saya tahu kemana arah-arah hidup ini akan akan saya jalani.
Bagi kalian para 20ers, jangan menyerah, selagi masih ada waktu, tentukan apa cita-citamu. Sebelum roda kehidupan berputar lagi, lalu anda terjepit dibawah.
SEMANGAT!
:)
23.44 WIG
@ My 2nd Boarding House, Jepara...