Kamis, 03 Februari 2011

Sudahkah Saya Menjadi Anak yang Sholeh?



Sebelumnya saya ingin menambahkan bahwa saya tidak menggurui kepada siapapun yang membaca tulisan ini. Saya juga bukan tauladan yang baik untuk anda semua. Saya hanya ingin membagi perasaan dan pemikiran saya.

Saya sayang dengan orang tua dan keluarga saya. Bagaimanapun merekalah yang melahirkan saya, membesarkan saya, membimbing saya, dan mencukupi segala kebutuhan saya dari materi hingga kasih sayang yang tidak henti-henti. Bagi saya, keluarga adalah segala-galanya. Bukan hanya orang tua, tapi kakek-nenek, om tante, sepupu, semua turut andil dalam membentuk karakter saya saat ini. Dari mereka saya belajar banyak, dan saya pun mendapat kasih sayang yang sangat berlimpah.

Sampai akhirnya sesuatu yang "sudah seharusnya", terjadi dalam hidup saya. Eyang kakung saya tercinta dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Rasanya seluruh dunia saya berhenti seketika. Hampir tidak percaya, dan benar-benar panik. Karena rasanya belum banyak hal yang dapat saya lakukan untuk membahagiakan beliau, membuat beliau bangga pada saya. Tapi rasanya sudah tidak mungkin, hingga saya teringat pada hadits Rasul.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila seorang anak Adam mati maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang selalu mendoakannya.”
(Hadits shahih riwayat Muslim).

Saya bukanlah ahli agama. Bisa dibilang pengetahuan dan pendalaman saya tentang agama masih sangat sedikit. Ketika saya membaca hadits tersebut, yang ada dalam pikiran saya adalah : Anak sholeh kah saya?

Saya tahu, urusan dosa dan pahala adalah diatur oleh Allah swt. Oleh sebab itu, saya jadi berfikir, sudah cukup soleh kan saya, sehingga dapat menyambung amal bagi orang tua saya nanti? sudah cukup soleh kah saya untuk membantu orang tua saya di akhirat nanti? Bagaimana jika saya tidak cukup soleh untuk itu?Bagaimana jika saya justru menjerumuskan mereka ke dalam siksa akhirat, hanya karena saya tidak mau menjadi anak baik-baik yang sholehah?

Sedih rasanya jika berfikir demikian. :( Tapi kita sebagai manusia hanya bisa berusaha. Karena kita tidak tahu, apakah selama ini amal baik yang kita tabung sudahkah cukup atau belum. Kita tidak tahu, apakah ibadah kita selama ini diterima atau tidak. Apakah ibadah anda dan saya sudah baik? Wallahualam...

Wallahualam... Hanya Tuhan yang tahu,,, hanya Tuhan yang bisa menilai kualitas ibadah kita,, hanya Tuhan yang berhak membeda-bedakan kita sesuai tingkatan amal perbuatan kita.

Ketika kita mensejajarkan dua orang yang berbeda, satu orang yang baik, ramah, disukai banyak kawan. Kemudian dengan orang lain yang tidak banyak kawan, judes, dan sebagainya. Sebagai seorang manusia kita pasti akan lebih memilih orang yang pertama. Tapi bagaimana jika, orang kedua, yang tidak kita sukai tersebut, ternyata lebih tinggi derajatnya di mata Allah dibanding dengan orang yang pertama? atau bahkan dengan kita? bagaimana jika kita, di mata Allah, tidak lebih baik dari orang yang tidak kita sukai tersebut? Saya sering merasa miris sendiri jika berfikir demikian. Bukankah ironi sekali? Bukankah seharusnya kita malu pada Allah? Seharusnya saya malu pada Allah, karena sering bersikap demikian pula. :(

Tapi lagi-lagi, semua ini kembali ke diri kita, lalu baru bergerak vertikal lurus ke Allah. Kita hanya bisa berusaha, segalanya Allah yang menentukan. Namun jangan pesimis, karena Allah pasti akan menunjukkan jalan bagi umatNya yang mau berusaha. Allah juga tidak akan membiarkan hambaNya yang sudah berusaha, tersesat di jalan yang salah. Mari kita sama-sama berusaha untuk menjadi paling baik di mata Allah swt. Saya juga tidak pesismis, saya akan terus berusaha menjadi anak sholehah. Mari kita berusaha untuk menjadi anak sholeh bagi kedua orang tua kita. Lalu jangan lupa, doakan mereka agar tidak terputus amalnya. :)

“ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO”

Selasa, 01 Februari 2011

Tentukan Cita-Citamu

Hari ini adalah hari pertama saya melaksanakan PKL atau Praktek Kerja Lapangan. Pagi tadi ketika berangkat, saya sempat berbincang-bincang dengan teman saya, Averus Rizki Alfian atau biasa di sapa vero. Pembicaraan sederhana saja sebenarnya, sambil bercanda seperti biasa. Namun inti dari pembicaraan itu sangat dalam jika mau kita kaji.

di atas motor
Vero : "wah,, kita mau berangkat kerja. hahaha"
Saya : "hahaha.. cuma PKL ini"
Vero : "nggak kerasa ya sebentar lagi udah mau lulus terus kerja"
Saya : "iya nich, udah semester 6 aja kitanya."
Vero : "padahal tingkah polahnya kita masih kayak anak kecil semua ya? hahahaha"
Saya : "hhaa.. iyaa,, padahal udah kepala dua ya..."

Saya malah jadi kaget sendiri dengan kata-kata saya. Saya baru ingat kalau saya sudah menginjak usia 20 tahun. Well, saya akui saya memang masih suka lupa jika saya ini sudah berkepala dua. Selain karena faktor masih suka bermain-main, juga mungkin karena faktor badan saya yang tidak terlalu tinggi dan besar, yang katanya masih pantas jika memakai seragam smp. -___-" pendapat yang terakhir itu, tolong diabaikan.

Saya kemudian berfikir, bahwasanya saya sudah sampai di tahap ini. Seorang wanita, berumur 20 tahun menginjak 21, mahasiswi tingkat 3, yang sudah hampir lulus, Insya Allah. Tapi sampai detik ini saya masih belum bisa melihat dengan pasti kemana arah tujuan hidup saya, dan sampai sejauh ini pencapaian apa yang telah saya dapat dalam hidup. Terus terang saya masih merasa biasa-biasa saja. Seorang mahasiswi biasa, dengan kemampuan biasa, dan prestasi biasa.
Padahal saya tidak menampik, ada keinginan dalam diri saya untuk menjadi orang di atas rata-rata. Paling tidak bisa setingkat lebih baik di atas orang lain.

Dulu saat saya masih kecil, jika melihat umur 20 tahun ke atas, kesannya pasti adalah orang dewasa yang matang dan berwibawa, punya tujuan hidup yang pasti dan yang jelas berkarakter. Tapi pada kenyataannya adalah, tidak semua orang yang berumur 20tahun demikian. Tak jarang saya menemukan orang yang berumur 20tahun, atau lebih, namun pemikirannya masih seperti anak kecil. Belum memiliki tujuan dan arah hidup yang pasti, masih suka bermain-main. Saya akui mungkin saya termasuk orang yang demikian pula. Bertingkah seperti anak kecil mungkin sesekali, tapi untuk tujuan hidup? hmm... entahlah...

Setahu saya, orang yang tidak memiliki tujuan hidup adalah orang terlabil di dunia. Karena seseorang dilahirkan untuk hiduo di dunia, yang hanya sementara, lalu apabila ia tidak memiliki tujuan hidup, "terus lo ngapain disini??" . Ibaratnya seperti seseorang yang naik bus kota tapi tidak tahu kemana tujuan ia berhenti nantinya. Maka mungkin ia hanya naik bus tersebut, mengikuti kemana ia melaju, sampai bensinnya habis, atau jika ia tidak beruntung, diturunkan dan dicaci-caci kernet karena tidak punya tujuan.

Saya mungkin akan kesulitan untuk menjawab tujuan hidup saya. Seperti makhluk Tuhan lainnya, tujuan hidup saya adalah masuk surga. Tapi selain itu selama hidup di dunia ini, saya juga ingin menjadi seseorang yang berarti, bermanfaat, hingga ketika mati nanti, nama dan karya saya masih akan terus dikenang sepanjang masa. Tapi masalahnya adalah, saya tidak tahu, mau jadi apa saya ini.

Sampai di usia 20tahun ini saja, yang saya lakukan hanyalah mengikuti arus takdir yang dituliskan Tuhan. Hal ini mulai saya lakukan ketika saya masuk kuliah pertama kali. Karena sama sekali saya tidak pernah membayangkan harus masuk dan kuliah di jurusan saya sekarang ini. Pada awalnya saya protes kepada Tuhan, tapi kemudian hari saya bersyukur atas pilihan Tuhan. Dari situ saya mulai belajar bahwa bagaimanapun rencana dan mimpi-mimpi yang kita inginkan, tetap Tuhanlah yang tahu bagian mana yang terbaik untuk kita. Oleh sebab itu, saya mulai menjalani semua hal yang Tuhan takdirkan pada saya. Saya hidup mengikuti arus, seolah-olah tanpa beban. Apapun yang Tuhan berikan saya terima. Tapi menerima segala sesuatunya ternyata bukanlah hal yang mudah. Saya melihat orang-orang disekeliling saya, betapa mereka bersemangat berusaha mengejar segala sesuatu yang mereka sebut cita-cita. Saya sendiri bahkan lupa kapan saya terakhir kali memiliki cita-cita.

Rasanya menyakitkan sekali, ketika semua orang disekelilingmu sibuk jungkir balik, rela mengorbankan ini itu untuk suatu tujuan dan cita-cita yang pasti. Sementara kamu hanya berjalan ditempat sambil melihat orang lain jatuh bangun diatas kaki mereka. Ketika orang lain jatuh satu kali, mungkin kamu akan melihatnya dengan tatapan kasian. Ketika orang tersebut jatuh dua kali, mungkin kamu akan berkata : betapa bodohnya. tapi ketika kamu melihat orang yang sama jatuh berkali-kali, pasti kalian akan berfikir, untuk apa? Untuk apa ia rela jatuh bangun, dan bersakit-sakitan. Menyesakkan ketika mengetahui bahwa ternyata ada cita-cita yang sedang ia perjuangkan disana.

Kemudian saya mulai mengorek-orek kembali kenangan-kenangan masa kecil saya. Ketika ditanya : "adek cita-citanya apa?" saya kecil (SD Kelas 4) akan spontan menjawab designer. Didorong oleh hobi menggambar perempuan, saya kemudian tertarik untuk menjadi designer, meskipun tanggapan papa cukup menyakitkan : "kamu mau jadi penjahit?". Seiring berjalannya waktu, keinginan tersebutpun menghilang, dengan semakin menurunnya kemampuan menggambar saya. Kemudian saya bercita-cita menjadi penulis, karena kesukaan saya membaca novel. Tapi karena tidak telaten menulis, maka disinilah saya, hanya menjadi penulis blog sederhana yang tidak tahu apakah ada orang diluar sana yang membaca dan mengikuti tulisan saya.

Saya juga sempat berkeinginan menjadi seorang psikolog.Tapi apa daya, jurusan psikologi masuk ke jurusan sosial. Sementara saat SMA saya di jurusan sains, walhasil saya tidak jadi mendaftar kesana. Ditambah pula dengan ketidaksetujuan eyang ibu. Kata beliau, "Itu lho dokter psikolog di RSU nggak ada pasiennya." Meskipun saya menuruti, tapi saya tidak mengamini pemikiran beliau itu. Singkat cerita, sampailah saya pada jurusan ini. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, program studi Aquaculture. Dan rasanya sudah pasti mustahil jika pada saat ini saya bercita-cita untuk menjadi dokter. Lalu bagaimana nasib cita-cita saya?

Seperti yang bisa dilihat dari tulisan saya di atas, hidup saya memang banyak dipengaruhi oleh orang-orang terdekat saya. Mulai dari orang tua, eyang, kakak, om, tante dan lainnya. Saya memang seorang family oriented. Hampir segala sesuatu yang yang saya putuskan, saya diskusikan dulu dengan keluarga. Mungkin inilah yang sedikit "menghambat" saya untuk memilih cita-cita saya. Saya sedikit menjadi agak paradoid, jika ternyata cita-cita saya tidak disetujui oleh keluarga. Juga banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus saya ambil sebelum menentukan cita-cita saya.

Pada usia yang ke 20+ ini, saya memutuskan untuk memiliki cita-cita,
1. Lulus kuliah sebelum usia 22tahun, dengan IPK diatas 3,6
2. Melanjutkan S2 di Korea/Jepang/Perancis/Australia/Kanada
3. Menjadi dosen dalam rangka mewujudkan keinginan papa, serta menjadi pengusaha tambak yang sukses sesuai keinginan pribadi.
4. Menemukan jodoh dan menikah sebelum 25 tahun.

Jangan tertawa. Sila anggap ini adalah cita-cita orang pada umumnya. Karena memang demikian adanya. Tunggu sampai anda berkepala dua, anda pasti akan mengerti.

Saya memang ingin membuat pencapaian tinggi, tapi saya baru berani memanjat, bukan langsung meloncat terbang melesat. Saya memang ingin mencapai tujuan yang pasti, tapi belum berani langsung berlari, paling tidak saya tahu kemana arah-arah hidup ini akan akan saya jalani.

Bagi kalian para 20ers, jangan menyerah, selagi masih ada waktu, tentukan apa cita-citamu. Sebelum roda kehidupan berputar lagi, lalu anda terjepit dibawah.
SEMANGAT!
:)

February 1st, 2011
23.44 WIG
@ My 2nd Boarding House, Jepara...

Sabtu, 29 Januari 2011

aku dan kamu dipertemukan dalam satu dunia yang sama
pada dunia nyata yang kita diami
memainkan peran sebagai yang biasa dan yang sebagaimana seharusnya
aku dicinta dan kamu memiliki cinta
tapi tanpa sadar aku dan kamu jatuh pada lubang yang sama dari perjalanan hidup kita
yang mengantarkanku dan kamu pada satu semesta yang tidak nyata namun ada
berawal dari kata, lalu menuju cerita dan juga segala kepedulian yang tercipta untukku dan untukmu
ku kira hanya ada aku dan kamu dalam semesta ini, namun ternyata ada satu kuasa yang lebih besar
yang mengendalikanmu dan juga aku
kuasa yang tak bisa kita cegah atau kita hindari
aku dan kamu akhirnya hanya bisa berdiam diri
antara ingin kembali atau tetap seperti ini
lelahkah kau berdiam diri wahai kekasih?
karna semesta kita tercipta dari hati yang tak ada ujungnya
aku tak tahu betapa besar kamu mendominasi hati ini,
karna yang kutemukan hanya kamu dan kamu lagi
tapi kemudian kau memilih pergi dan kembali
pada dunia yang menciptakanmu dan melahirkanmu
kembali pada segala yang nyata kau punya
sementara aku masih disini,
menunggu
tanpa berani berharap suatu saat kau akan kembali...

Rabu, 05 Januari 2011

Menikmati Karmaku

Dalam hitam sejenak makin meradang,
bahwa sendiri bukan cuma ilusi atau halusinasi.
Kawan bukan manusia atau cinta.
Yang ada hanya suara-suara bising yang kuciptakan sendiri.
Semua nampak begitu nyata dan sekaligus hampa.
Dulu yang telah berlalu kini berkumpul jadi satu mengikatku pada kenangan buruk
dan menghentikan nafasku dalam apa yang disebut karma.
Tak kuasa menolak, maka kunikmati saja semua.
Kuhabiskan tertawa, meresapi semua lalu menangis sehabis-habisnya.
Sampai nanti akan datang jawaban dari semua kesalahan dan kemunafikan masa lalu.

-12 November 2010-

Sabtu, 01 Januari 2011

Sekali Lagi Mengenang Eyang Kakung

Tulisan ini di buat oleh Om saya, Tekad Widodo Setiawan
anak kedua dan anak laki-laki satu-satunya dari eyang kakung.
mohon izin mengunggah kembali ya om...



Yth. Ibu/Bapak/Saudara/Kakak/Adik/Teman semua:

Dari lubuk hati saya yang paling dalam, ijinkanlah saya mengucapkan terima kasih atas doa, ucapan duka, dan bantuan yang disampaikan dalam bentuk apa pun pada saat kembalinya ayah saya ke haribaan Illahi Robbi. Semoga Allah SWT memberikan ganjaran atas budi baik Ibu/Bapak/Saudara/Kakak/Adik/Teman semua. Amin. Sekarang, mohon ijinkan saya mengenang ayahanda. Terima kasih.

Mengenang bapak,
adalah mengenang seorang lelaki santun yang selalu menyemangati,
memberikan pujian atas keberhasilan, dan senyum pengertian di kala gagal,

Bapak yang tidak marah ketika kami melanggar larangannya,
yang hanya memandang sedih, itu pun berusaha disembunyikannya,
Bapak yang begitu menyayangi kami semua.

Bapak yang masih sabar ketika dokter membedah perutnya kemudian menutupnya kembali karena tidak ditemukan radang di ususnya,
yang masih mau dioperasi kembali prostatnya setelah operasi pertama malah membuatnya tersiksa,

Namun akhirnya bapak menyerah pada sebuah kejadian,
saat lewat tengah malam di luar kota Tuban,
yang diikuti jerit kehilangan di Kudus, Surabaya, Tangerang, dan Jakarta

Gusti, lapangkanlah jalan bapak menuju kehadirat-Mu

Hari ini, ketika aku menuliskan ucapan terima kasih ini,
masih tergambar raut damai bapak ketika untuk terakhir kali aku memeluknya.


Mataram, 13 Desember 2010



Gambar di atas adalah gambar kondisi mobil setelah kecelakaan terjadi. tapi hanya sebagian yang ditampilkan, karena tidak tega untuk menampilkan gambar seutuhnya.

sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=489429064696&set=a.179860094696.117702.669904696&ref=nf

Jumat, 31 Desember 2010

Duka di Penghujung Tahun 2010

Hari ini 31 Desember, hari terakhir di tahun 2010.
Semua orang bersuka cita merayakannya, sudut-sudut kota yang biasanya sepi kini ramai dengan masyarakat yang ingin berpesta atau sekedar melihat kembang api dan meniup terompet bersama keluarga. Tapi aku memilih berdiam diri di kamar, seperti tahun-tahun sebelumnya. Menonton tv sambil menunggu pergantian hari. Dua tahun lalu aq menonton Harry Potter, tahun berikutnya Spiderman 3, dan tahun ini stasiun TV yang sama menayangkan Pirate and The Carrebian 3. hanya saja sepertinya aku urung menontonnya.

Malam ini, aku sejenak ingin mengenang tahun 2010. Tahun yang cukup berat ku jalani, khususnya di bulan desember, bulan terakhir di tahun ini.

Bagaimana tidak, karna pada bulan inilah aku kehilangan salah satu sosok yang cukup berperan penting dalam perjalanan hidupku, beliau adalah Bapak H. Munasri Hadi Saputro, eyang kakungku.Tepatnya pada tanggal 5 Desember sekitar pukul 3.50 WIB eyang kakung menghembuskan nafas terakhirnya. Beliau meninggal di Tuban, pada sebuah kecelakaan mobil.
Ya, kecelakaan mobil.

Semua orang pasti mengira kepergian eyang kakung adalah dikarenakan sakit yang ia derita, seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya. Tapi ternyata Allah mengambilnya dengan cara yang berbeda.

Rasanya sama sekali seperti mimpi, seperti menonton sinetron di televisi, ketika kami mendengar kabar kecelakaan itu, kami langsung menyusul ke TKP, tapi bahkan belum sampai keluar dari Kudus, kami mendapat kabar bahwa eyang kakung telah tiada.

Lemas luruh seluruh jiwa dan ragaku mendengarnya. Rasanya benar-benar ingin marah dan teriak sekencang-kencangnya, mengapa dengan cara ini Allah memanggil beliau. Saat memandang jenazah beliau yang telah beku dalam balutan kain kafan, rasanya ingin sekali membangunkan beliau. Membangunkannya dari tidur yang sangat lelap. Tapi tak ada nafas dan dengkur berirama disana, alih-alih membuka mata. Eyang masih saja diam dan beku.

Satu hari, satu minggu, dua minggu, hampir satu bulan berlalu sejak kepergian eyang kakung. Rasanya masih seperti mimpi, rasanya masih tidak percaya bahwa eyang kakung kini telah tiada. Dalam sebagian pikiranku masih terpatri bahwa eyang kakung masih ada di rumah, menonton tv seperti biasanya, dan ketika aku pulang nanti, aku akan dengan mudah menemuinya di ruang tengah. Memeluknya, sambil bertanya : "eyang sehat?" atau jika tidak kutemukan beliau disana, maka pasti eyang kakung sedang tidur di kamarnya.

Tapi beliau tidak ada disana, dan tak kan pernah lagi ada disana. Aku harus bisa menerima kenyataan bahwa tak ada lagi suara dan nasehat beliau, tak ada lagi pelukan hangat beliau, meski rasanya masih teringat dengan jelas raut wajah eyang kakung yang menangis sedih ketika memelukku, saat mengantarku kembali ke kos. dan ternyata pelukan itu adalah pelukan terakhir, persis di dalam mobil, kursi dan posisi yang sama ketika kecelakaan itu terjadi.

Aku akan sangat merindukan eyang kakung.

Rasanya tak habis-habis airmata ini tertumpah setiap mengenang beliau. Bagi orang lain mungkin aku terlalu berlebihan, tapi seandainya mereka tahu bagaimanakah sesosok eyang kakung bagi kami, mungkin mereka akan berpikir lain.

Eyang kakung adalah sosok yang sabar dan bersemangat. Beliau suka olahraga. Bagaimana tidak, beliau adalah guru olahraga. Bahkan dalam usia kepala 5 pun beliau masih sering di minta untuk menjadi pembawa acara pertandingan sepakbola Persiku di GOR Kudus. Beliau adalah suami, ayah, mertua dan kakek yang sangat sayang kepada keluarga. Sering ketika beliau mendapat sedikit rejeki tambahan, kami para cucu-cucunya diajak pergi jajan di luar. Apakah sekedar lentog tanjung, lontong tahu, soto, es dawet dan lain-lain. Eyang ibu pun sering bercerita, meskipun hidup berkekurangan eyang kakung selalu berusaha agar anak-anaknya bisa sekolah tinggi, memakain seragam yang pantas, tidak boleh kusam sedikitpun, meskipun harus berhutang kesana-kesini.

Beliau sering mengajakku dan kakakku pergi kemana-mana. Meskipun sekedar berkeliling desa dengan sepeda atau dengan vespa kebanggaanya. Eyang bukan orang yang neko-neko, beliau adalah orang yang sederhana, ramah, dan jarang sekali marah. Beliau sering bercerita, tentang masa mudanya, tentang pengalamannya, tentang anak-anaknya, segala hal yang bisa kujadikan pelajaran di hidupku. Beliau selalu mengingatkanku untuk tidak mencontoh dirinya, namun contohlah orang lain yang lebih baik untuk dijadikan panutan. Padahal beliaulah yang turut andil memberiku banyak pelajaran di hidup ini.

Eyang kakung is a family oriented person. Sampai di ujung usianya pun beliau masih melindungi keluarganya. Seandainya saja saat itu bukan eyang kakung yang duduk di depan, bisa saja tante atau eyang ibu atau siapa yang pergi. Tapi eyang kakung lah yang ada di posisi itu, duduk disana dengan pasrah tanpa punya daya untuk menahan hantaman di kepalanya karna penyakitnya yang melumpuhkan sebagaian otaknya. Dan eyang kakunglah yang pergi, selamanya, ke alam dan dimensi lain. Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, karena ini bukan salah siapa-siapa. Ini adalah suratan, ini adalah Takdir Tuhan. Kami menerimanya dengan lapang dada.

Meski berat, meski sedih, tapi inilah kenyataan. Namun, meski raganya telah hilang ditelan bumi, tapi bagi kami, eyang kakung akan selalu ada dan bersemayam di hati. Dan cinta kami kepada beliau tidak akan pernah habis terhapus oleh waktu.
Selalu dan untuk selamanya.
We Will Always Love You Grand Pa...

your grand daughter
"Fa"

Rabu, 17 November 2010

Grand Pa

Rasanya aku ingin sekali menulis sesuatu, dengan kata-kata indah, suatu karangan yang panjang, dengan bahasa yang santun, tetapi tetap jenaka, yang menggambarkan sesosok Eyang Kakung di mataku. Ingin sekali ku selipkan di dalamnya rasa sayang, rasa cinta, dan rasa hormatku yang tak pernah habis untuknya. Bahwa dari dulu hingga sekarang, beliau adalah kakek nomor 1 di dunia ini, yang tak ada habisnya aku bangga-banggakan. Tapi rasanya tak ada kata-kata yang sanggup kurangkaikan. Karena semuanya telah luruh bersama air mata yang mengalir tak henti-henti, meski ku usap berkali-kali. Ingin rasanya ku kerahkan semua tenaga yang ada untuk membantunya keluar dari penjara kanak-kanak yang membelenggu pikiran tuanya. Agar ia dapat kembali menjadi ia yang selama ini aku tahu. Tapi aku tak punya daya juga kuasa. Aku hanya bisa berdiri masih di tempat yang sama dan berdoa bagi kesembuhannya.

Get Well Soon Grand Pa..
No matter how long it is, no matter how hard it would be...
-Happy Ied Adha 1431 H-